"Tahun ini ritel berat, tahun ini sangat berat, semuanya turun," ucapnya saat ditemui di Hotel Aryaduta, Rabu (1/4/2015).
Pihaknya menyebutkan salah satu penyebab tidak berkembangnya ritel tahun ini adalah lantaran daya beli masyarakat yang menurun.
"Saya enggak tahu ya mungkin pendapatannya naik, tapi daya beli turun," sebutnya.
Misal, katanya, kalau dulu satu rumah cuma punya satu motor bisa nganter anak sekolah, sekarang ga bisa, harus beli dua motor dengan kredit lagi. Menurutnya beban biaya cicilan seperti motor atau barang lain membuat daya beli masyarakat untuk bahan pokok menurun.
"Sekarang orang mulai menyimpan uang untuk rekreasi jadi yang pokok-pokok mulai turun," tukasnya.
Pengaruh lain, lanjutnya, penguatan dolar juga mempengaruhi sulitnya industri ritel berkembang. Fluktuasi nilai tukar membuat pengusaha wait and see untuk mengembangkan perusahaannya.
Pihaknya menilai dengan investasi yang di rem oleh pengusaha membuat pemasukan bagi pekerja ikut berkurang. Imbasnya, pertumbuhan industri ritel tahun ini diprediksi akan melambat. Dia menyebut dengan pertumbuhan 6 persen saja untuk tahun ini sudah terbilang baik.
"Growth pasti turun, maksudnya begini yang biasanya growthnya double digit, tahun ini 6 persen saja sudah bagus. Itu sudah termasuk ekspansi. Apalagi kalau ekspansi dibatasi, pasti akan turun," tukasnya.
(Rizkie Fauzian)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.