JAKARTA - Pengusaha makanan tradisional menilai, kenaikan harga elpiji 12 kilo gram (Kg) mampu memberikan banyak kendala bagi industri makanan tradisional, salah satunya bagi Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM).
Ketua Komite Tetap Bidang Makanan Tradisional Kadin Chris Hardijaya mengatakan, kenaikan harga gas 12 kg membuat kondisi gas non subsidi tersebut kosong di pasaran dan menyebabkan migrasi pun terjadi ke gas melon.
"Beralih ke 3 kg dan akan berdampak kepada 3 kg yang jadi mahal, jadi harganya mahal," kata Chris kepada Okezone, Jakarta, Senin (6/4/2015).
Tidak hanya itu, kenaikan gas 12 kg juga menyebabkan UMKM sektor makanan tradisional seperti kueh semakin berat, terutama UMKM yang sektornya menengah ke bawah.

"Kenaikan BBM juga mempengaruhi usaha," tambahnya.
Dapat diketahui, PT Pertamina (Persero) resmi kembali menaikan harga jual gas elpiji non subsidi atau elpiji 12 Kg pada April 2015. Adapun kenaikan harga tersebut berkisar Rp6.300 sampai Rp8.000 per tabung dan juga tergantung jauh dan dekatnya suatu daerah.
Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina Ahmad Bambang mengatakan, harga elpiji 12 kg per tabung untuk wilayah Jakarta menjadi Rp141.000 dari yang semula Rp134.700 per tabung.
"Kenaikan antara 6.300-8.000, tergantung daerah atau jauh dekatnya," kata Bambang kepada Okezone, Jakarta.
(Meutia Febrina Anugrah)