JAKARTA - Bank Indonesia (BI) sudah mengantisipasi perlambatan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Tercatat, pada kuartal I-2015 pertumbuhan ekonomi hanya 4,7 persen. Angka ini turun jika dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu yang sebesar diatas 5 persen.
"Kalau pertumbuhan ekonomi 4,7 persen itu adalah kondisi yang kita sudah antisipasi," ucap Gubernur BI Agus Martowardojo di Istana Negara, Jakarta, Rabu (6/5/2015).
Agus menjelaskan, perlambatan pertumbuhan ekonomi ini terjadi bukan hanya faktor dalam negeri, tetapi sentimen ekonomi global yang berimbas kepada Indonesia. Walaupun pada dasarnya, perlambatan pertumbuhan ekonomi sudah terjadi sejak tahun 2012.
"Kondisi ekstern yang perlu kita lihat adalah kalau kita mengikuti komoditi utama ekspor Indonesia, itu sejak 2011 kalau kita ambil 8 komoditi ekspor andalan kita, dari 2011-2015 itu per kuartal atau tahun demi tahun semuanya itu harganya terjadi penurunan. Dan itu konsisten," papar Agus.
Agus menambahkan, selama lima tahun inipun harga komoditas mengalami perputaran yang cukup drastis. Jika pada 2010 hingga 2012 harga komoditas seluruhnya mengalami lonjakan, maka kondisi terbalik terjadi pada periode 2012 hingga 2015. Hal ini terlihat harga dari 8 komoditi andalan ekspor Indonesia anjlok secara keseluruhan.
"Jadi sangat dapat kita pahami, kalau kita enggak lakukan hilirisasi, atau diversifikasi pasar itu akan berdampak ke Indonesia. Dan kita juga tau kalau harga minyak sebagai salah satu komoditi utama turun, harga komoditi yang lain juga cenderung turun," tegas Agus.
Lanjut Agus mengungkapkan, tidak hanya itu, koreksi pertumbuhan ekonomi China pun menggangu pertumbuhan ekonomi Indonesia. Tercatat, sejak 2014 hingga saat ini, perekonomian China diperkirakan hanya tumbuh 6,8 persen. Hal ini membuat permintaan pasar ekspor dari Indonesia ke China berkurang.
"Jadi kondisi dari pertumbuhan ekonomi yang relatif lebih rendah, itu dipengaruhi antara lain karena mineral yang lemah, dan pertumbuhan sektor kalaupun ada, itu kecil. Dan ini berdampak kepada pertumbuhan ekonomi yang 4,7 persen," ungkapnya.
Disisi lain, faktor dalam negeri yang mempengaruhi perlambatan pertumbuhan ekonomi Indonesia adalah APBN-Perubahan 2015 baru selesai pada bulan Februari, sehingga aliran dana untuk pembangunan infrastruktur terlambat.
"Ada juga 10 kementerian yang nomenklaturnya musti disesuaikan. Sehingga pengeluaran pemerintah masih terhambat," tukasnya.
(Fakhri Rezy)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.