Share

Sofyan, Indroyono & Adrinof Dinilai Paling Layak Di-reshuffle

Feby Novalius, Jurnalis · Jum'at 08 Mei 2015 18:03 WIB
https: img.okezone.com content 2015 05 08 20 1146774 sofyan-indroyono-adrinof-dinilai-paling-layak-di-reshuffle-f3AvLE3IyO.jpg Foto: Antara
JAKARTA – Kinerja pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) dinilai belum menunjukkan perubahan, alhasil kabinet kerja diminta untuk dilakukan reshuffle.

Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menilai, pangkal dari ketidakcakapan pemerintahan Jokowi ada di tim perencana yakni Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas) pimpinan Andrinof Chaniago.

Direktur Indef, Enny Sri Hartati mengatakan, tim perencana inilah yang paling pokok dan harus dievaluasi dan dirombak (reshuffle).

"Kalau rencana bagus dan mudah diimplementasikan, itu akan lancar saja. Kalau rencananya enggak bisa menjawab problem, ya rencananya itu yang harus dievaluasi,"jelasnya di Kantor Indef, Jakarta, Jumat (8/5/2015).

Di sisi lain, dalam perencanaan program Rencana Kerja Pemerintah (RKP) tidak ada perubahan signifikan antara perencanaan pemerintahan lalu dan saat ini. Visi pemerintahan Jokowi untuk membangun ekonomi dari pinggir justru tidak tercermin dalam rencana kerja tersebut.

"Padahal taglinenya luar biasa, membangun dari pinggir,"tuturnya.

Hal ini yang tidak diikuti dari perombakan, perencanaan dan alokasi anggaran yang dilakukan pemerintah.

Selain Bappenas, tim ekonomi yang harus segera di-reshuffle adalah tim koordinator, yang dalam hal ini ada dua koordinator ekonomi di tim pemerintahan Jokowi, yaitu Menteri Koordinator (Menko) bidang Perekonomian Sofyan Djalil dan Menko bidang Kemaritiman Indroyono Susilo.

"Kalau koordinasi ya menko. Kalau misalnya koordinasi tidak jalan, ya menko. Menko kan ada dua, ada maritim dan ekonomi," ucap dia.

Padahal, kepercayaan masyarakat yang besar terhadap Jokowi Cs, terutama semangat dan tawaran janjinya untuk revolusi mental.

"Yang dipahami masyarakat, revolusi mental itu melakukan percepatan, perbaikan dan solusi the bottlenecking. Artinya kalau itu tidak terjadi, ya bukan revolusi. Tapi business as usual,"tuturnya.

(rzk)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini