nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Dibanding Malaysia, Harga Gas di Indonesia Lebih Mahal

Hendra Kusuma, Jurnalis · Selasa 14 Juli 2015 21:04 WIB
https: img.okeinfo.net content 2015 07 14 19 1181961 dibanding-malaysia-harga-gas-di-indonesia-lebih-mahal-TWqodFIJ6c.jpg Ilustrasi: Reuters
JAKARTA - PT Pupuk Indonesia Holding Company (Persero) mengeluhkan mahalnya harga gas. Pupuk Indonesia sendiri mengandalkan gas sebagai komponen utama produksi yang persentase sekira 70 persen.

"Ngeluh sudah sering sekali, karena selalu memakan waktu lama, bahkan sampai ke JK (Wapres Jusuf Kalla). Kesepakatan harga yang paling berat," kata Direktur Investasi dan Pengembangan Pupuk Indonesia Nugraha Budi Eka Irianto saat berbincang bersama wartawan, Jakarta, Selasa (14/7/2015).

Nugraha menyebutkan, dalam menentukan kesepakatan harga gas di Indonesia sering terjadi tarik ulur dan selalu menjadi kendala bagi Pupuk Indonesia. Pasokan gas industri selama ini didominasi oleh perusahaan migas swasta seperti Exxon Mobile dan ConocoPhilips melalui production sharing contract (PSC).

Nugraha menuturkan, harga yang harus dibayarkan Pupuk Indonesia tergantung jenis lapangan. Untuk yang di daerah Kalimantan Timur harganya sekira USD7,4 per 1 MMBTU, sedangkan yang termurah sekira USD4,5 per 1 MMBTU dan itu berada di Palembang.

"Kalau dibanding Malaysia, mereka USD4,5 per 1 mmbtu. Karena kan disana dikontrol Petronas, dikendalikan pemerintah. Kalau di kita kan sebagian besar justru bukan Pertamina, tapi seperti Exxon dan Conoco. Berat posisi kita," tambahnya.

Lanjut Nugraha, Pupuk Indonesia telah melakukan berbagai upaya untuk menekan harga gas industri yang masih mahal di Indonesia. Salah satunya, melalui anak usahanya, yakni PT Rekayasa Industri (Rekind) yang bekerjasama dengan PT Pertamina untuk mengembangkan pabrik petrokimia berbasis gas dan batubara.

Nugraha menuturkan, penggunaan batubara dalam melakukan produksi mampu lebih berhemat lantara harga batubara tengah mengalami penurunan yang saat ini sekira USD60 per ton atau sekira USD3,5 per MMBTU.

"Beda banget harganya. Mungkin harganya bisa dapat 35-40 persen setara gas. Dengan harga di atas USD6,5 per 1 mmbtu atau ada yang sampai USD9 per mmbtu, kita enggak mungkin hidup jualan di pasar internasional," tandasnya.

(rzk)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini