Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Wakil Presiden Buka Kampanye "Yuk Nabung Saham" di Investor Summit

Dani Jumadil Akhir , Jurnalis-Kamis, 12 November 2015 |09:06 WIB
Wakil Presiden Buka Kampanye
Wakil Presiden Jusuf Kalla (Foto: Okezone)
A
A
A

JAKARTA - Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) meresmikan Peluncuran Kampanye 'Yuk Nabung Saham'. Kampanye tersebut merupakan tema dari acara Investor Summit and Capital Market Expo 2015 (ISCME 2015) yang sudah diselenggarakan dari 9 November hingga saat ini.

Peluncuran Kampanye 'Yuk Nabung Saham' dilakukan di Main Hall Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta. Dijadwalkan peluncuran akan dilakukan pada pukul 09.00 WIB bersamaaan pembukaan perdagangan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Pantauan Okezone, Jakarta, Kamis (12/11/2015), pengamanan super ketat mengawal kedatangan nomor orang 2 sudah dilakukan sejak pagi tadi. Tampak aparat kepolisian berjaga-jaga di sepanjang jalan menuju Gedung BEI hingga lokasi.

Hadir dalam kampanye ini Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Muliaman D Hadad beserta jajaran OJK lainnya. Selain itu hadir pula tuan rumah dalam acara ini Direktur Utama BEI Tito Sulistio, beserta jajaran BEI.

Sebelumnya, BEI mengajak nasabah perbankan mengalihkan tabungannya untuk investasi di pasar saham. Lantaran, saat ini hanya sekitar 4 persen dari total penduduk Indonesia yang berinvestasi saham atau jauh lebih kecil dari pemilik tabungan yang mencapai 60 persen.

Direktur Utama BEI, Tito Sulistio mengatakan menabung dalam bentuk saham memberikan imbal hasil (return) yang lebih besar dibandingkan deposito berjangka (time deposit).

Tercatat, dalam 10 tahun terakhir, imbal hasil Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sekitar 24 persen, sedangkan time deposit cuma 7,2 persen.

"Nabung saham, menyimpan saham, dalam jangka panjang terbukti lebih menguntungkan. Maka itu masyarakat harus mengubah karakter dan profil dari 'saving society' menjadi 'investment society'." kata Tito.

Kampanye yang melibatkan seluruh pelaku pasar modal tersebut, kata Tito, bertujuan untuk mengubah budaya masyarakat yang cenderung menyimpan uangnya di bank (saving society) menjadi masyarakat yang berinvestasi di saham (investment society). Saat ini hanya sekitar 4 persen dari penduduk Indonesia yang menjadi investor dan paham atas produk saham atau jauh lebih kecil dari masyarakat yang menabung di bank yang ada di kisaran 60 persen.

“Saya harapkan kampanye ‘Yuk Menabung Saham’ menjadi menjadi sepopuler kampanye 'Keluarga Berencana' zaman dulu, menjadi sangat populer seperti Tabanas (Tabungan Pembangunan Nasional) dulu,” sebutnya.

(Rizkie Fauzian)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement