Semuanya harus sesuai dengan tujuan awal terbentuknya eco distrik ini. Untuk itu kajian mengenai proses pembangunan tidak boleh bersinggungan dengan harapan war ga sekitar. Menurut dia, dari survei yang dilakukan, masyarakat sekitar berharap lingkungannya lebih baik. Namun ada pula yang mengusulkan untuk sebagian direlokasi dan bahkan mengajukan pembangunan rumah susun yang layak huni. “Soal hal ter sebut masih dalam per tim bangan, apakah nantinya akan direlokasi sebagian atau full dijadikan ruang terbuka hijau,” kata Tono.
Untuk program ini pihak Pemkot bekerjasama dengan Pe merintah Perancis dalam designtata ruangnya. Selain itu, dana yang digunakan untuk penataan kawasan ini pun bukan berasal dari Pemkot melainkan dari Pemerintah Perancis. Dengan adanya program ini, diharapkan menjadi salah satu alter natif solusi bagi pengentasan kawasan kumuh. Ber dasarkan data Distarcip, hingga Agustus 2015 terdapat 454 lokasi kumuh dengan luas total sekitar 1.457 hektare.
Tono menyebutkan, sejauh ini pihaknya sudah melakukan penataan kawasan kumuh. Kini yang tengah diproses yakni kawasan Kiara Condong belakang Bandung Trade Mall (BTM). “Kawasan itu kondisinya sangat kumuh. Belum lama ini ka mi buatkan saluran pem buangan komunal, sanitasi ling kungan, dan penataan ruang yang lebih baik,” ujarnya.
Dia mengatakan, sejauh ini kawasan kumuh di kota Bandung menurun jika dibanding kan tahun-tahun sebelum nya. Hal ini bukan terlihat dari pe nurunan jumlah kawasan kumuh, melainkan tingkat ke kumuhan kawasan itu yang ber kurang. “Sebetulnya kawasan titik rentan kumuhnya semakin me nurun, karena kami banyak ban tuan dari pusat. Ka mi juga sudah lakukan penataan dari isi tata lingkungan dan sanitasi.
Namun soal kepa datan pend u duk itu yang paling susah. Tapi minimal dari sisi sanitasi dan lingkungan membaik,” paparnya.