NEW YORK - Harga minyak mentah berjangka mulai menutup kerugian setelah data pasokan di Amerika Serikat (AS) menurun dan penurunan jumlah rig AS yang beroperasi. Selain itu, kombinasi ketegangan politik global antara Turki dan Rusia menjadi sentimen pendukung tambahan.
"Ini lantaran menjelang liburan dengan ketegangan politik global. Kombinasi itu dan penurunan jumlah rig sebelumnya membantu mendorong harga minyak lebih tinggi," kata Analis di Chicago-broker Price Futures Group Phil Flynn, seperti dilansir Reuters, Jakarta, Kamis (26/11/2015).
Harga minyak mentah berjangka sempat mencapai harga tertinggi dua mingguan, setelah Turki menembak jatuh sebuah pesawat tempur Rusia karena diduga melewati wilayah udaranya, yang meningkatkan ketegangan politik di Timur Tengah.
Patokan minyak mentah Brent berjangka LCOc1 ditutup naik 5 sen di USD46,17 pada hari Rabu, setelah jatuh lebih dari USD1 untuk sesi rendah USD45,03. Sementara itu, harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) berjangka CLc1 naik 17 sen lebih tinggi pada USD43,04 per barel.
Administrasi Informasi Energi AS mengatakan, stok minyak mentah di seluruh negeri naik 961.000 barel pekan lalu.
Administrasi Informasi Energi AS mencatat, stok minyak mentah di Amerika naik 961.000 barel pekan lalu, lebih rendah dari perkiraan industri American Petroleum Institute sebesar 2,6 juta barel.
(Martin Bagya Kertiyasa)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.