Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Menjajaki Gedung Peninggalan Belanda di Pinggir Ibu Kota

Fhirlian Rizqi Utama , Jurnalis-Rabu, 30 Desember 2015 |16:09 WIB
Menjajaki Gedung Peninggalan Belanda di Pinggir Ibu Kota
Foto: Fhirlian/Okezone
A
A
A

BEKASI - Salah satu daerah penyangga ibu kota, yakni Bekasi, saat ini dikenal sebagai kota penyumbang kaum commuter terbanyak ke Jakarta.

Selain itu, Bekasi juga disebut-sebut sebagai daerah yang sangat potensial untuk bisnis properti. Sejumlah pengembang kelas kakap seperti Summarecon, Adhi Karya, dan Agung Sedayu Group telah menancapkan investasinya di daerah berpenduduk 2 juta jiwa lebih ini.

Terlepas dari hal itu, ternyata Bekasi juga menyimpan catatan sejarah perjalanan bangsa Indonesia. Salah satunya melalui keberadaan gedung bersejarah, yakni Gedung Juang 45, di Tambun, Bekasi.

Dikutip dari laman resmi Pemerintah Kabupaten Bekasi, tamsel.bekasikab, Rabu (30/12/2015), gedung tersebut juga akrab disebut 'Gedung Tinggi' oleh warga sekitar.

Bangunan yang memiliki gaya arsitektur neoklasik Eropa ini di bangun oleh seorang tuan tanah bernama Kow Tjing Kie pada 1910 silam. Gedung yang berdiri diluas lahan sekira 1.000 meter persegi ini terdiri dari dua lantai.

Dalam proses konstruksinya, bangunan ini melewati dua tahap, tahun 1906 dan tahun 1925. Pada awalnya, di bagian halaman muka Gedung Juang ini, dijadikan taman buah yang diantaranya banyak ditanami pohon mangga yang pada saat itu belum pernah dikenal masyarakat Tambun dan Bekasi.

Tuan tanah Kouw Oen Huy, menguasai bangunan tua ini hingga 1942. Selanjutnya, tahun 1943, bangunan bersejarah tersebut berada di bawah pengawasan pemerintahan Jepang hingga tahun 1945. Tentara Jepang, juga menggunakan bangunan tua ini sebagai pusat kekuatannya dalam menjajah Indonesia.

Halaman:
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement