Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Bisnis Properti 'Berumur Panjang', Simak 3 Aspek Ini

Bisnis Properti 'Berumur Panjang', Simak 3 Aspek Ini
Ilustrasi: Shutterstock
A
A
A

JAKARTA – Membangun bisnis properti yang berkelanjutan sudah menjadi keharusan bagi seluruh pengembang jika ingin bersaing di era Masyarakat Ekonomi Asean. Selain ketatnya persaingan pemasaran bisnis properti secara digital, pengembang juga harus tetap menjalankan bisnis yang bisa diterima oleh stakeholder properti, antara lain: pasar, pemerintah, masyarakat, atupun klien.

Bisnis properti yang keberlanjutan juga memiliki arti bahwa bisnis tersebut dapat diserap oleh pasar, harus sesuai dengan regulasi pemerintah, dan memiliki klien yang baik. Dengan kata lain ada reputasi yang baik terbangun pada pihak pengembang itu sendiri.

Head of Marketing Rumah.com, Ike Noorhayati Hamdan menjelaskan terdapat tiga aspek penting agar bisnis properti Anda berlangsung lama. Ketiga aspek tersebut berkaitan dengan tanggung jawab perusahaan terhadap lingkungan sekitar yang dijadikan lokasi proyek properti Anda yang terangkum dalam ISO 26000.

1. Akuntabilitas

Perusahaan pengembang harus tercatat legal, baik dalam surat pendirian perusahaan, surat ijin membangun proyek, memiliki reputasi yang baik di perbankan, memiliki rekam jejak yang tidak merusak, dan juga ‘lancar’ dalam hal pengurusan pajak.

Aspek akuntabilitas ini juga dapat membangun reputasi positif di mata stakeholder. “Tidak ada lagi perusahaan yang green washing yang menutupi kesalahan-kesalahan yang pernah dibuat misalnya terhadap lingkungan,” ujar Ike.

2. Tranparansi

Aspek transparansi ini menerangkan profitabilitas yang didapatkan oleh masyarakat terhadap adanya pembangunan proyek di daerah tersebut. Hal ini juga bisa dikemas dengan dengar pendapat terkait potensi apa saja yang dimiliki daerah setempat.

“Misalnya di kawasan Gianyar, Bali, terkenal dengan alamnya yang asri, budaya tradisionalnya yang masih sangat kental, untuk itu pengembang harus mengangkat potensi kawasan tersebut dari pada membangun 100 persen modern yang belum tentu sesuai,” kata Ike.

Halaman:
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement