nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Direksi Timah Dituding Manipulasi Laporan Keuangan

Dedy Afrianto, Jurnalis · Rabu 27 Januari 2016 13:24 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2016 01 27 278 1298264 direksi-timah-dituding-manipulasi-laporan-keuangan-UaPk3wquCL.jpg Foto: Dedy/Okezone

JAKARTA - Ikatan Karyawan Timah (IKT) yang berasal dari Provinsi Bangka Belitung dan Kepulauan Riau hari ini menggelar orasi di depan Kementerian BUMN. Dalam orasinya, karyawan yang berjumlah 30 orang ini menyampaikan tuntutan agar jajaran direksi segera mengundurkan diri.

Tuntunan ini bukannya tanpa alasan. Menurut Ketua Umum IKT Ali Samsuri, direksi PT Timah (Persero) Tbk (TINS) saat ini telah banyak melakukan kesalahan dan kelalaian semasa menjabat selama tiga tahun sejak 2013 lalu.

"IKT menilai direksi telah banyak melakukan kebohongan publik melalui media. Contohnya adalah pada press release laporan keuangan semester I-2015 yang mengatakan bahwa efisiensi dan strategi yang telah telah membuahkan kinerja yang positif. Padahal kenyataanya pada semester I-2015 laba operasi rugi sebesar Rp59 miliar," ujar Ali dalam orasinya di depan Gedung Kementerian BUMN, Jakarta, Rabu (27/1/2016).

Oleh sebab itu, IKT menuntut agar jajaran direksi segera mengundurkan diri. Menurut Ali, waktu yang diberikan selama hampir dua tahun oleh IKT tidak berhasil dimanfaatkan oleh jajaran direksi untuk membenahi kinerja perseroan.

Namun, apabila tuntunan ini tidak dipenuhi oleh perseroan, IKT mengancam akan menghentikan kegiatan operasi sementara hingga adanya kejelasan dari pihak direksi.

"Kita sudah memberikan waktu agar direksi dapat memperbaiki kinerja perusahaan. Namun, pertumbuhan gagal dicapai. Untuk itu kita tuntut jajaran direksi segera mundur. Apabila tuntunan kita tidak dipenuhi kita akan lakukan penghentian operasi secara sementara," jelas Ali.

Sebagai informasi, selain mengalami penurunan laba, PT Timah juga mencatatkan peningkatan utang hampir 100 persen dibanding 2013. Pada tahun 2013, utang perseroan hanya mencapai Rp263 miliar. Namun, jumlah utang ini meningkat hingga Rp2,3 triliun pada tahun 2015.(rai)

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini