JAKARTA - Hari ini ribuan sopir taksi dan sejumlah sopir angkutan umum lainnya melakukan demontrasi untuk menuntut ketegasan pemerintah mengatasi transportasi berbasis online.
Tuntutan ini jelas beralasan, karena para supir telah kehilangan sejumlah pendapatannya akibat layanan transportasi online. Menanggapi hal tersebut, PT Blue Bird Tbk mengklaim telah memberikan pendapatan yang menguntungkan pada para pengemudinya.
Direktur Blue Bird Adriantor Joko Sutono mengatakan, bisnis model pemberian pendapatan Blue Bird berbeda dengan taksi lainnya. Blue Bird menggunakan skema komisi bukan setoran untuk per harinya.
"Artinya sudah pasti pengemudi tidak akan minus pendapatannya. Kemudian pasti dapat hasil, per harinya penghasilan bisa lebih antara 30-50 persen secara progresif," ujarnya di Kantor Blue Bird Jakarta, Selasa (21/3/2016).
Adrianto tak menjelaskan secara rinci pergitungan pembangian hasil dengan skema komisi. Adriato mengatakan, untuk minimum biaya sebesar Rp70 ribu dan minimum komisi Rp100 ribu.
"Kami tidak punya target setoran. Untuk detail komisi, itu susah dijabarkan. Jadi bagian terhadap pengemudi itu penghasilan mereka bisa lebih dari Rp100 ribu,"ujarnya.
Menurutnya skema pemberian hasil, bergantung juga dengan banyak faktor seperti faktor ekonomi, kebutuhan masyarakat dan lainnya.
"Secara siklus kan berbeda-beda. Pasti ada penurunan dan pertumbuhan. Kita lihat siklus ekonomi, kemudian dari demand bagaimana. Bergantung juga pada semua itu,"tuturnya.
(Widi Agustian)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.