JAKARTA - Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman menuturkan, pengoperasian kereta api pelabuhan akan memberikan dampak cukup signifikan terhadap waktu bongkar muat barang atau dwelling time di Pelabuhan Tanjung Priok.
Staf Ahli Menko Kemaritiman Bidang Kebijakan Energi Abdulrachim mengatakan, pengoperasian kereta api pelabuhan bisa membuat dwelling time maksimal di bawah tiga hari.
"Kalau sudah jalan dwelling time bisa turun signifikan, bisa di tiga hari atau bisa turun di bawah tiga hari," kata Abdulrachim di Kantornya, Jakarta, Rabu (23/3/2016).
Abdulrachim menyebutkan, saat ini waktu bongkar muat di Pelabuhan Tanjung Priok baru mencapai 3,65 hari, dari yang sebelumnya selama tujuh hari. Penurunan waktu bongkar muat menjadi fokus Presiden Joko Widodo (Jokowi) semenjak menjadi orang nomor satu di Indonesia.
Lanjut dia, kerugian yang disebabkan lambatnya waktu bongkar muat di Pelabuhan Tanjung Priok di mana sekitar Rp740 triliun, membuat Presiden Jokowi selalu mengecek progres penurunan angka dwelling time.
"Karena itu Pak Jokowi sangat serius soal dweliing time dan ingin diturunkan sekecil-kecilnya," tambahnya.
Menurut Abdulrachim, pengoperasian kereta api Pelabuhan Tanjung Priok ke depannya akan merelai kemacetan yang terjadi di luar pelabuhan. Pasalnya, selama ini barang-barang di pelabuhan yang mau dikirim atau diambil hanya menggunakan truk yang setiap pengoperasiannya sering terjebak macet.
Kemacetan tersebut, sambung Abdulrachim, sangat mempengaruhi waktu bongkar muat di Pelabuhan Tanjung Priok.
"Ini yang akan diatasi oleh kereta api itu. Jadi tidak ada kereta api itu banyak bongkar muat, itu akan menghubungkan ke Cikarang Dry Port, Cikarang ini sekelilingnya kawasan industri selama ini di bawa oleh truk kalau nanti bisa langsung diangkut kereta api masuk ke pelabuhan," tukasnya.(rai)
(Rani Hardjanti)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.