Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

INSPIRASI BISNIS: Usaha Batik Medan yang Mulai Mendunia

Aminoer Rasyid , Jurnalis-Kamis, 14 April 2016 |06:34 WIB
INSPIRASI BISNIS: Usaha Batik Medan yang Mulai Mendunia
Ilustrasi: (Foto: Okezone)
A
A
A


MEDAN – Kini, batik tidak hanya berasal dari Pulau Jawa, Sumatera Utara juga saat ini menghasilkan kain batik dengan motif budaya dan suku yang dikenal sebagai batik Medan. Produksinya tidak hanya di pasaran lokal, tapi juga mampu menembus pasar luar negeri.

Batik yang diproduksi dari usaha rumahan tersebut, sempat dipamerkan di dua negara, yaitu Thailand dan Bulgaria.

Usaha batik yang digeluti Yulita Kustiwi ini merupakan usaha keluarga yang digagas oleh ibundanya Nur Cahaya Nasution. Dia dapat memproduksi 1.700 lembar kain per bulannya, dengan dibantu 18 karyawannya dan usaha batik yang dilakoninya itu berjalan sejak tahun 2008.

Selain menggeluti usaha batik, Tiwi juga bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil di salah satu instansi pemerintahan di Kota Medan, Sumatera Utara. Berbagai motif dan corak batik dibuatnya, corak batik tersebut diperolehnya dari melihat buku dan internet serta megunjungi rumah-rumah adat yang ada di Sumatera Utara. Kemudian motif dan corak yang diminatinya itu dikirim ke Yogyakarta untu dibuat mal atau cetakannya. Begitu juga dengan lilin sebagai alat utama batik didatangkan dari luar Pulau Sumatera.

Kini, usaha batik yang digelutinya telah mendunia, da saat ini Tiwi kebanjiran orderan dari dalam Kota Medan hingga ke mancanegara. Namun kurangnya tenaga kerja menjadi halangan untuk usahanya itu berkembang.

Harga kain batik yang dijualnya juga bervariasi, dari harga Rp150 ribu hingga Rp350 ribu per lembar kain dengan ukuran 2 meter. Semuanya itu tergantung dari kesulitan dan motif yang diminati para pelanggan serta kain yang dipesan, dari mulai batik berbahan kain katun hingga kain berbahan sutra.

Untuk proses pembuatan kain batik tulis membutuhkan waktu satu minggu, sedangkan batik cap minimal tiga hari, kemudian proses pewarna sesuai keinginan pemesan. Untuk mempertahankan garis-garis motif batak, maka dibuat proses penembokan dengan cara mempertebalnya dengan canting yang panas, jadi lengkap ada kuali kecil dan kompor.

Setelah pewarnaan pertama dilakukan proses penembokan, kemudian diwarnai sekali lagi. Baru kemudian dilorot atau direbus. Perebusan itu hanya memakan waktu 10 hingga 15 menit, bertujuan untuk menghilangkan lilin yang terdapat pada kain.

“Barulah setelah itu kain batik yang sudah diwarnai dan dilorot itu dijemur hingga kering dan akhirnya kain batik pun jadi,” kata Tiwi di Medan.

Sementara itu, tiwi juga dapat memproduksi batik dengan corak kain ulos, motif hari hara sundung di langit yang menunjukkan ciri khas Batak toba dan perpaduan antara beberapa motif dari berbagai daerah yang dituangkan di dalam selembar kain dengan campuran motif dan corak.

Dapat dipahami, perbedaan antara batik Medan dengan batik asal pulau Jawa, terletak pada motifnya. Motif Jawa biasanya mengedepankan motif bunga, hewan dan semacamnya. Sementara motif batak medan condong ke etnik yang ada di Sumatera Utara. “Misalnya ulos yang mengambil corak dari kain ulos,” tutup dia.

(Fakhri Rezy)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement