JAKARTA - Sektor kuliner atau makanan yang dikenal dengan istilah Food and beverage (F&B) masih menjadi sektor yang mendominasi ruang ritel di Jakarta, baik yang meliputi tenant lokal maupun internasional.
“Permintaan masih terbatas oleh pasokan yang sedikit, namun permintaan di sektor F&B terus berkembang,” jelas James Taylor, Head of Research JLL Indonesia.
Sementara di sektor ritel Ibukota Jakarta, aktivitas take-up terkuat terjadi di proyek-proyek ritel yang baru selesai. Dalam tiga kuartal berturut-turut, penyerapan bersih didorong oleh aktivitas pemasaran di Lippo St. Moritz Tahap II—proyek teranyar di pasar ritel primer.
Riset yang dilakukan konsultan properti JLL selama kuartal I-2016 memperlihatkan, pasokan terbatas dan tingkat hunian yang sehat membuat pemilik ruang (landlord) ritel di mal kelas atas tetap dalam posisi yang relatif kuat. Beberapa landlord bahkan melaporkan waiting list untuk penyewa ruang ritel primer.
Tak Ada Suplai, Tingkat Hunian Tinggi
Aturan moratorium ritel stand-alone di CBD Jakarta telah diberlakukan sejak 2011. Meskipun ini bukan kebijakan resmi, namun Gubernur Jakarta secara selektif tidak lagi mengizinkan pembangunan proyek-proyek ritel baru.
Semua pasokan ritel primer terbaru merupakan pengembangan di proyek-proyek mixed-use yang selesai di kuartal III-2015, yakni Lippo St. Moritz Tahap II.
Vacancy rate tercatat satu digit dalam beberapa tahun terakhir. Sementara itu, pasokan ritel yang sedikit, diprediksi masih akan terjadi dalam jangka pendek atau menengah.
Meskipun dengan tingkat kekosongan yang rendah dan pasokan yang tipis, kenaikan sewa tahunan tercatat masih satu digit. Salah satu alasan pertumbuhan belum kuat adalah dominasi kelompok ritel besar yang beroperasi. Kelompok-kelompok ini memiliki banyak merek dan hal ini membuat mereka memiliki posisi tawar yang kuat.
Sejumlah transaksi berskala besar terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini membuat pasokan dan permintaan basis demografi yang kuat dan dinamis. Sementara, banyaknya pemilik ruang ritel yang tidak bersedia melepas aset mereka di kuartal I-2016 membuat tidak ada transaksi yang tercatat. Di sisi lain, minat dari investor tetap kuat.
(Rizkie Fauzian)