Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Pinjaman Modal Kereta Cepat dari China Diputuskan Juli 2016

Antara , Jurnalis-Kamis, 30 Juni 2016 |20:11 WIB
Pinjaman Modal Kereta Cepat dari China Diputuskan Juli 2016
Ilustrasi: Reuters
A
A
A

JAKARTA - PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) berharap keputusan persetujuan pinjaman dari Bank Pembangunan Tiongkok (CDB) yang meliputi 75 persen dari dana pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung dapat segera diputuskan dalam kurun waktu sebulan mendatang atau Juli 2016.

"Untuk pendanaan masih proses negosiasi dengan CDB, masih berproses terus, juga secara internal dengan empat BUMN yang terlibat harus diselaraskan. Mudah-mudahan dalam waktu sebulan bisa segera diputuskan," kata Direktur Utama PT KCIC Hanggoro Budi Wiryawan dalam temu media di Jakarta, Kamis (30/6/2016).

Hanggoro menuturkan saat ini pihaknya secara bertahap terus melaporkan hal-hal yang diprasyaratkan oleh CDB untuk persetujuan pinjaman tersebut.

Di antara prasyarat tersebut adalah hasil studi kelayakan pembangunan (feasibility study) yang telah dianalisa oleh peninjau (appraisal) independen Indonesia untuk meyakinkan bahwa hasil studi kelayakan tersebut bisa diyakini kebenarannya.

Kemudian disampaikan pula model pendanaan yang sudah ditinjau oleh lembaga analis keuangan internasional.

Selain itu pihak CDB juga meminta ada kepastian pencairan dana dari empat BUMN yang tergabung dalam konsorsium PT Pilar Sinergi BUMN yang terdiri dari PT Wijaya Karya, PT Kereta Api Indonesia, PT Perkebunan Nusantara VIII dan PT Jasa Marga.

Konsorsium tersebut akan menanggung 15 persen dari keseluruhan dana pembangunan proyek kereta cepat Jakarta-Bandung atau sekira Rp10,6 triliun.

"Empat BUMN tersebut sudah menyanggupi pencairan sesuai jadwal dari 2016-2019," kata Hanggoro.

Komposisi pembagian tanggungan di antara keempat BUMN tersebut adalah 28 persen oleh PT Wijaya Karya, 12 persen PT Jasa Marga, dan masing-masing 25 persen oleh PT KAI dan PTPN VIII.

Sedangkan sisa 10 persen dari dana pembangunan proyek yang mencapai total sekira USD5,5 miliar tersebut akan ditanggung oleh konsorsium Tiongkok.

(Dani Jumadil Akhir)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement