Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Gubernur BI Ungkap Persoalan Utama Pengembangan Ekonomi Batam

Dedy Afrianto , Jurnalis-Jum'at, 12 Agustus 2016 |15:50 WIB
Gubernur BI Ungkap Persoalan Utama Pengembangan Ekonomi Batam
Gubernur BI Agus Martowardojo (Foto: Okezone)
A
A
A

BATAM - Batam saat ini diproyeksi dapat menyaingi Singapura dalam percaturan ekonomi global. Hanya saja saat ini Batam belum dapat berkembang sesuai yang diharapkan.

Menurut Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo, sulitnya ekonomi Batam berkembang, khususnya pada sektor maritim adalah karena minimnya sumber daya yang dapat menjadi nilai jual bagi ekonomi Batam. Dengan begitu, kapal-kapal yang berlabuh di Batam pun tak dapat membawa banyak barang ketika kembali dari Batam.

"Masalah yang dialami Batam adalah skala ekonomi. Misal kalau kita kirim barang ekspor pulangnya selalu kosong. Batam yang sejak tahu 1970 berdiri, kita lihat tidak punya size. Kita banyak hambatan. Kalau pemerintah berkoordinasi dengan baik itu bisa diatasi. Kita berdampingan dengan Singapura tapi kita enggak bisa memanfaatkan kelebihan kita," kata Agus di Hotel Radisson, Batam,Jumat (12/8/2016).

Akibatnya, sektor perdagangan sepenuhnya masih dikuasai oleh Singapura. Indonesia pun saat ini hanya dapat memanfaatkan sisa-sisa potensi perdagangan dari Singapura.

"Banyak perusahaan multi nasional yang ada di Singapura melakukan transaksi dengan perusahaan yang ada di Singapura juga. Indonesia hanya kebagian order pengiriman saja. Ini yang harus diubah. Kita juga lihat bahwa transaksi terjadi antara company di Singapura tapi ordernya ke Batam," imbuhnya.

Tak hanya itu, masalah yang dihadapi oleh Singapura adalah pada dangkalnya pelabuhan yang dimiliki oleh Batam. Kedalaman pelabuhan di Batam masih kalah dibandingkan dengan negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia.

"Untuk membangkitkan industri maritim kita Salah satu yang harus kita sikapi adalah kedalaman pelabuhannya. Kedalaman kita rata-rata 9-10 meter. Padahal kalau kita ingin memiliki volume laut maka kita harus punya kedalaman laut di pelabuhan sekitar 15 meter. Ini harus diperbaiki kalau ingin jadi negara maritim yang kuat," kata Agus.

"Butuh langkah terintegrasi. Kami juga punya pemikiran yang ingin disampaikan. Pembangunan kemaritiman ini butuh strategi. Jangan karena maritim ini potensi ya besar, semua kawasan jadi ingin mengembangkan pelabuhan internasional. Ini harus ada pembagian tugas. Harus ada strategi nasional agar ada pembagian peran," tutupnya.

(Raisa Adila)

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement