JAKARTA - PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN) terus berkomitmen membumikan gas bumi di Indonesia dengan cara memperluas dan menyalurkan energi gas bumi melalui pipa yang dibangun PGN untuk kebutuhan masyarakat banyak di Indonesia. Bahkan, gas bumi sudah dapat dinikmati dari ujung barat Indonesia hingga timur Indonesia.
Buktinya, pada Februari 2016, PGN menyalurkan gas bumi ke 3.898 rumah tangga lima kelurahan di Sorong, Papua, yakni Kelurahan Malawili, Malawele, Mariat Pantai, Klabinain, dan Aimas. Kelima wilayah tersebut sudah bisa menikmati masak memakai bahan bakar gas bumi yang bersih, efisien dan tidak impor.
Pemanfaatan gas bumi dari PGN sebagai energi pilihan yang ramah lingkungan mampu menunjang kehidupan masyarakat luas, mulai dari sopir bajaj, UMKM hingga industri skala besar. Gas bumi dari PGN pun menjadi sumber energi yang mendorong perekonomian nasional dan penguatan daya saing di sektor rumah tangga, UMKM, komersial, industri, kelistrikan dan transportasi.
Terlebih lagi, PGN menargetkan menambah panjang pipa gas buminya sepanjang 1.685 kilometer (km) dalam periode 2016-2019. Nantinya pada 2019 total panjang pipa PGN menjadi 8.656 km. Dengan target menambah pipa gas bumi, PGN menunjukkan komitmen dan konsisten dalam membumikan gas bumi di Indonesia sebagai energi pilihan yang efisien, ramah lingkungan dan aman untuk memperkuat kemandirian energi nasional.
Dengan adanya kepastian pasokan gas bumi, pembangunan infrastruktur dan penguatan pasar akan menjamin generasi gas bumi Indonesia.
"Saat ini pipa gas yang kami bangun dengan biaya sendiri tanpa mengandalkan APBN mencapai lebih dari 7.100 km," kata Sekretaris Perusahaan PGN Heri Yusup, di Jakarta.
Heri mengungkapkan, infrastruktur pipa gas bumi yang dibangun sepanjang 1.685 km tersebut di antaranya proyek pipa transmisi open access Duri-Dumai-Medan, pipa transmisi open access di Semarang dan pipa distribusi gas bumi di wilayah eksisting serta daerah baru lainnya.
"PGN juga diberi mandat oleh Pemerintah untuk membangun pipa distribusi Batam (Nagoya) WNTS-Pemping, proyek ini juga dibiayai oleh dana PGN sendiri tanpa mengandalkan APBN," jelasnya.
Heri menambahkan, selain penambahan infrastruktur gas bumi berupa pipa, PGN juga akan menambah sebanyak 60 SPBG di berbagai daerah mulai DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Banten, Batam, Lampung, Riau, dan Sumatera Utara. Selain itu PGN juga berencana membangun Mini LNG system untuk Indonesia bagian tengah dan timur.
"Dengan penambahan panjang pipa tersebut (pipa sepanjang 8.656 km), dapat meningkatkan kemampuan pemanfaatan gas bumi sebanyak 1.902 juta kaki kubik per hari (MMscfd)," ungkapnya.
Dengan pemanfaatan gas bumi sebanyak 1.902 MMscfd pada 2019 tersebut, dapat menciptakan penghematan sebesar Rp110,9 triliun. Sepanjang 2015 penyaluran gas bumi PGN sebanyak 1.586 MMscfd, ini memberikan penghematan sekitar Rp88 triliun ke pelanggan PGN.
Heri menegaskan, dengan kondisi turunnya harga minyak yang sedang terjadi saat ini, justru merupakan momentum yang baik untuk menggenjot pembangunan infrastruktur. Pada saat harga minyak turun juga mempengaruhi harga- harga material seperti pipa gas yang harganya juga turun.
"Situasi yang terjadi di hulu migas yang melambat memberi waktu untuk persiapan di hilir untuk meningkatkan infrastruktur," katanya.
Menurut catatan, hingga akhir tahun 2015 lalu, PGN sudah membangun dan mengoperasikan lebih dari 6.470 kilometer (km) pipa gas bumi. Sebagian besar pipa yang dibangun statusnya open access alias dapat dimanfaatkan bersama.
"Dari 6.470 km pipa gas yang dibangun dan dioperasikan PGN, sekitar 2.400 km merupakan pipa open access yang bisa dimanfaatkan bersama," kata Head of Corporate Communication PGN Irwan Andri Atmanto.