JAKARTA - Indonesia saat ini berupaya menjalin kerja sama hubungan perdagangan bebas dengan kawasan negara lainnya. Pasalnya, kerja sama ini dapat meningkatkan nilai ekspor Indonesia, salah satunya adalah ekspor tekstil.
Hanya saja, ekspor tekstil Indonesia saat ini cukup tertinggal dibandingkan negara lainnya. Salah satunya adalah Vietnam.
Menurut Kepala BKPM Thomas Lembong, hal ini disebabkan karena Vietnam telah menjalin kerja sama perdagangan bebas dengan berbagai regional. Sehingga menyebabkan rendahnya tarif bea masuk yang dibebankan.
"Jadi ekspor dari Vietnam ke Eropa enggak kena tarif. Sementara ekspor kita kena tarif 10-17,5%. Jadi belum apa-apa kita sudah kalah tarif. Sementara perusahaan itu profit margin aja biasanya enggak sampai 10%. Jadi enggak mungkin kita tuntut industri kita turunin harga sebesar itu," jelasnya di Komplek Istana Negara, Jakarta, Selasa (6/12/2016).
Untuk itu, lanjutnya, pemerintah harus mempercepat negosiasi kerja sama perdagangan bebas guna meraih pasar di negara lainnya. Selain itu, Indonesia harus menggenjot aspek fundamental yang dapat meningkatkan daya saing.
"(Fundamental) pertama misalnya itu soal harga gas. Makanya Pak Presiden dan Menko Ekonomi sangat fokus pada harga gas bagi industri. Kedua, harga listrik, ini juga sangat menentukan bagi ongkos produksi," jelasnya.
Aspek fundamental yang ketiga adalah perburuhan, hal ini bukan hanya dalam hal tingkat upah, tapi juga keterampilan dan jam kerja yang harus lebih ditingkatkan.
"Kita menginginkan produktivitas buruh naik, sehingga ada basis upah naik. Tapi enggak bisa upah naik, produktivitasnya sama saja, atau menurun. Itu enggak bisa, kita malah kehilangan daya saing," jelasnya. (dng)
(Rani Hardjanti)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.