JAKARTA - Tidak ada yang dibanggakan Takao Yasuda selain usaha ritelnya, Don Quijote.
Toko diskon yang dikenal dengan sebutan Donki itu tidak hanya menjadi toko favorit masyarakat Jepang dan para wisatawan, tapi juga menjadi magnet para turis asing, termasuk Lady Gaga.
Selama 27 tahun berturut-turut, Donki telah mengalami pertumbuhan penjualan.
Bermula dari toko kecil di Kota Tokyo bernama Just Co, kini Donki telah melebarkan sayapnya ke 160 wilayah Jepang dan memiliki sekitar 350 toko.
Donki juga memiliki tiga toko di Hawaii, Amerika Serikat (AS). Saat ini, Donki berencana mengembangkan bisnisnya ke Asia Tenggara dengan membuka toko pertama di Singapura.
Pada Juli 2013, Donki dalam hal ini Don Quijote Group mendirikan Pan Pacific International Holdings Pte Ltd (PPIHD) di Singapura untuk memantau rencana pengembangan toko dan peluang pasar di Asia Tenggara.
Jika jadi dibuka dan meraup kesuksesan, Donki tidak menutup kemungkinan akan dibuka di negara Asia Tenggara lainnya. ”Kami akan membuka toko pertama di Asia Tenggara di Singapura, lebih tepatnya di kawasan Orchard Road,” ungkap Don Quijote Group, dalam siaran pers, dikutip Channelnewsasia.
Namun, rincian mengenai pengembangan itu masih belum dibuka kepada publik. ”Kami akan mengumumkannya nanti,” kata Don Quijote Group. Meski demikian, Don Quijote Group berjanji akan menerapkan konsep asli dan keren di Singapura.
Secara umum, toko Donki mirip dengan toko ritel lainnya seperti 7-Eleven, Alfamart, dan Indomart. Hanya, Donki memiliki maskot penguin yang lucu. Setiap toko Donki di setiap wilayah memiliki maskot penguin yang beragam.
Donki juga memberikan harga yang super miring dibandingkan toko-toko lainnya atau supermall . Harganya yang bersahabat dan terjangkau membuat masyarakat Jepang, termasuk turis, tertarik untuk berburu berbagai produk-produk lokal di sana. Tak jarang turis asing yang membeli oleh-oleh di Donki karena kualitasnya juga terjamin.
Beberapa barang, terutama produk makanan, juga ada yang bebas pajak. Tapi, biasanya khusus bagi para wisatawan mancanegara. Pengunjung hanya perlu memperlihatkan paspor untuk mendapatkan harga khusus tersebut.
Namun, ada satu syarat lagi, barang itu biasanya tidak boleh dibuka, kecuali sudah keluar dari Jepang. Dengan harga yang murah, sebagian besar orang juga menamai Donki sebagai toko diskon. Produk-produk yang dijajakan juga sangat beragam dan memenuhi hampir kebutuhan pokok dan tersier.
Sebut saja produk pangan, makanan ringan, alat dapur, alat cuci, mainan anak-anak, aksesori, pakaian cosplay , kosmetik, dan elektronik. Dengan jam buka hingga larut malam, bahkan ada yang 24 jam, Donki berhasil meraih keuntungan yang cukup besar.
”Kami sekarang memiliki 350 toko di seantero Jepang. Dengan jumlah kumulatif pelanggan mencapai 300 juta per tahun, kami berhasil melakukan penjualan hingga 800 miliar yen di Jepang saja,” ungkap Don Quijote Group.
Pada awal pendirian Donki, Yasuda hanya menjajakan barang-barang buangan atau sampel dari berbagai perusahaan.
Seiring dengan lesunya pasar, usahanya hampir bangkrut. Namun, Yasuda tetap tegar dan bekerja lebih keras. Dia mulai menerapkan konsep 24 jam yang pada tahun 1980- an masih terdengar baru di kalangan warga Jepang.
Pengaruh dan peranan Yasuda dalam pengembangan Donki sangat besar. Faktanya, kemunduran pria berusia 66 tahun itu dari jajaran atas membuat investor asing cemas. Sejak rencana itu diumumkan, pemegang saham dari AS seperti Fidelity dan Lazard menurunkan saham mereka sedikitnya 1%.
Saham Donki juga anjlok sebesar 6%. Para ahli mengatakan proses transisi Donki merupakan ujian berat bagi toko ritel lainnya di Jepang seperti ritel serupa Fast Retailing, ritel pakaian Uniqlo, dan ritel furniture Nitori.
”Transisi ini akan menjadi tantangan besar bagi perusahaan Jepang lainnya,” kata Takahiro Kazahaya, dari Deutsche Securities, dilansir Financial Times.
Kendati pengeluaran konsumen di Jepang sedang menurun, pendapatan tahunan Donki tumbuh sebesar 12% menjadi 684 miliar yen. Chief Executive baru Donki, Koji Oohara, menargetkan dapat meraih pertumbuhan sebesar 6,7% pada tahun ini. ”Kami sadar kompetisi akan menjadi lebih ketat, tapi kami memiliki struktur yang kuat,” imbuhnya.
Para ahli mengatakan, salah satu hal yang membuat investor asing cemas ialah rencana Oohara dalam lima tahun ke depan dan ketajamannya memilih tempat untuk membuka toko baru atau saat melakukan akuisisi. Yasuda kini telah pindah ke Singapura, tempat asal istrinya, dan berperan sebagai penasihat pembuatan strategi pengembangan.
”Ketika Yasuda mengumumkan kemundurannya, investor jangka panjang menjual sahamnya. Tapi, investor Asia tampaknya akan masuk,” kata Maki Shinozaki, dari Morgan Stanley MUFG Securities.
Atas hal itu, investor asing sekarang memegang 74% saham Donki, bandingkan dengan tahun lalu yang mencapai 63%. Tantangan terbesar Oohara ialah meningkatnya pajak konsumsi dari 8% menjadi 10% sejak April lalu.
”Donki berpotensi menjadi perusahaan besar, tapi peran CEO baru untuk membuat keputusan dengan siapa perusahaan akan bekerja sama akan menentukan masa depan Donki. Yasuda sudah tidak ada lagi di sana,” tandas Kazahaya.
(Dani Jumadil Akhir)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.