nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Soal Gesek Ganda Kartu Debit dan Kredit, YLKI: Belum Ada Laporan

Feby Novalius, Jurnalis · Sabtu 09 September 2017 07:16 WIB
https: img.okeinfo.net content 2017 09 08 320 1772340 soal-gesek-ganda-kartu-debit-dan-kredit-ylki-belum-ada-laporan-b03Yvzy8qe.jpg Ilustrasi: (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Transaksi jual beli data nasabah tengah ramai diperbincangkan publik. Kabarnya data ini bisa didapat salah satunya dari penggesekan ganda (double swipe) dalam transaksi nontunai di merchant ritel.

Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) pun menilai ada hal aneh yang patut harus dicari tahu oleh pemerintah terkait mengapa kartu debit ataupun kredit usai transaksi harus digesek lagi di kasir ?

Kepala Bidang Pengaduan YLKI Sularsi mengaku, sampai saat ini memang belum ada laporan konsumen pada YLKI terkait gesek ganda kartu debit dan kredit ini. Namun jika memang terjadi maka sangat riskan sekali terkait perlindungan data pribadi dari si nasabah itu.

"Memang belum menerima langsung dalam artian kita pernah ada pengaduan tetapi kita tidak tahu apakah itu swipe atau tidak. Artinya bahwa kartu ada di tempat dia tapi ada satu transaksi," ujarnya saat dihubungi Okezone.

Baca juga: Gesek Ganda Kartu Kredit hingga Debit Bahaya, Aprindo: Apa Beda Ditulis dan Digesek?

Dia pun terheran ketika ada merchant yang melakukan gesekan ganda kartu dalam transaksi. Padahal, yang dibutuhkan hanya pembayaran si konsumen bukan data lengkapnya.

"Transaksi dengan ritel sebenarnya dengan EDC sangat cukup, karena yang dilakukan adalah berapa jumlah transaksi atau nilai konsumen, tidak perlu ada data. Yang penting kan konsumen membayar tunai pada mereka. Untuk itu ini jadi pertanyaan, apa kepentingan mereka lakukan gesekan ganda?" ungkapnya.

Baca juga: Gesek Kartu di Mesin Kasir Berbahaya, Harus Ada Sanksi!

Dia mengatakan, jika dilakukan penggesekan kartu di mesin kasir ada potensi terhubung dengan pusat ritel yang bisa mengambil data konsumen.


"Kalau jatuh kepada pihak tidak bertanggung jawab, oknum menggunakan itu kemudian data perusahaan tadi seberapa besar memberikan jaminan kepada orang lain," wujarnya.

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini