Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Reforma Agraria Masih Jadi Tantangan, BPN Terus Dorong Pajak Progresif Lahan

Antara , Jurnalis-Rabu, 27 September 2017 |16:36 WIB
Reforma Agraria Masih Jadi Tantangan, BPN Terus Dorong Pajak Progresif Lahan
(Foto: Okezone)
A
A
A

JAKARTA – Implementasi kebijakan pemerintah terkait dengan reforma agraria masih mengalami sejumlah tantangan. Sejumlah skenario telah disiapkan oleh pemerintah untuk mengatasinya.

Menteri Agraria dan Tata Ruang (ATR)/Badan Pertanahan Nasional (BPN) Sofyan Djalil menyampaikan, saat ini lahan-lahan pertanian sudah banyak ditinggalkan orang. Seandainya lahan tersebut didistribusikan, ada peluang tidak digarap dengan baik. Tentu masalah seperti ini menjadi pertimbangan pemerintah.

Pada sisi lain, jika yang didistribusikan adalah hak guna usaha di sektor perkebunan, dikhawatirkan berdampak terhadap produktivitas nasional. Hal ini akan ikut mempengaruhi kinerja perekonomian secara umum.

“Masih banyak lagi tantangan-tantangan lainnya, seperti masalah teknologi,” ujarnya, Rabu (27/9/2017).


Baca juga:

Duh, Menko Darmin Sebut Sumber Utama Kemiskinan Indonesia adalah Lahan!

Reforma Agraria Gunakan Skema Klaster, Menko Darmin: Agar Produktivitasnya Makin Tinggi

Kendati demikian, dia meyakini bahwa reforma agraria tetap dapat dilakukan dengan sejumlah modifikasi. Misalnya melalui pengenaan pajak progresif terhadap pengelolaan lahan yang sudah ada. Untuk itu, Badan Pertanahan Nasional (BPN) sedang menyiapkan koordinat digital agar posisi lokasinya akurat.

Pada saat bersamaan, pemerintah akan mendorong koperasi menjadi korporasi. Untuk kepentingan tersebut, pemerintah akan membantu masyarakat dalam hal akses keuangan, teknologi, pasar, serta pemasaran.

“Dari simulasi alokasi lahan 9 juta hektare, jika diinjeksi kepada masyarakat, akan berdampak terhadap penurunan indeks gini tanah dari 0,59 menjadi 0,35,” akunya.

Baca juga:

Reformasi Agraria! 2 Hektare Tanah Perhutanan Sosial Dibagikan ke Masyarakat Bulan Depan

Apa Kabar Perpres Reforma Agraria?

Pada kesempatan yang sama, Faisal Rahman dari Megawati Institute mengakui bahwa pertumbuhan ekonomi dapat dilakukan dengan membangun aset produktif milik orang miskin. Selain akses keuangan dan teknologi, paparnya, penting juga memberikan edukasi, fasilitas irigasi untuk pertanian, serta subsidi barang input.

Karena itulah, dia menyatakan sepakat dengan kebijakan reforma agraria yang diusung pemerintah. Kata Faisal, kebijakan tersebut akan mampu mengikis ketimpangan. “Tapi tidak hanya redistribusi aset, tapi juga redistribusi akses. Ini penting sekaligus untuk dilakukan oleh pemerintah,” ujarnya.

Kendati demikian, pemerintah perlu juga memikirkan potensi terjadinya moral hazard pada kebijakan reforma agraria. Misalnya, kemungkinan lahan yang didistribusikan berganti kepemilikan kepada pemilik modal.

“Tak kalah pentingnya adalah model pembagian lahannya harus merata dan transparan, jangan sampai justru menimbulkan gejolak sosial di lingkungan masyarakat,” tandasnya.

Sementara itu, Wakil Ketua KEIN Arif Budimanta mengatakan, one map policy terutama terkait cross checking, dalam hal ini tentu memerlukan banyak aspek teknologi. Terkait hal ini, banyak lembaga multilateral tertarik untuk membantu.

“Saran saya, apabila hal ini masih bisa ditangani oleh negara, maka baiknya negara saja yang menangani hal ini untuk mempertahankan kemandirian dan keamanan informasi negara,” kata dia.

(Widi Agustian)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement