nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Harga Tanah Makin Mahal, Bikin Takut Generasi Milenial Membeli Rumah?

Koran SINDO, Jurnalis · Rabu 18 Oktober 2017 12:08 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2017 10 18 470 1797654 harga-tanah-makin-mahal-bikin-takut-generasi-milenial-membeli-rumah-KjHZiL2TsG.jpg Ilustrasi: (Foto: Okezone)

TINGKAT ketersediaan lahan di kota besar di Indonesia, seperti Jakarta, Surabaya, Bandung makin terbatas. Keterbatasan itu membuat harga hunian menjadi mahal.

Seiring meningkatnya harga tanah atau rumah membuat generasi milenial yang ingin tinggal di hunian tapak semakin sulit mendapatkannya. Dengan begitu, tidak jarang dari mereka yang terus bergantung kepada orang tuanya.

Fasilitas lengkap, keamanan yang terjamin, dan biaya operasional yang cukup terjangkau menjadi alasan generasi milenial memilih tinggal di apartemen. Generasi milenial saat ini cenderung takut untuk membeli rumah.

Sebab, membeli rumah berarti harus memiliki komitmen besar. Selain harga, perawatan juga harus dipertimbangkan. Untuk itu, banyak kaum milenial lebih memilih apartemen karena cenderung praktis dalam perawatannya.

“Saat ini sulit sekali mencari apartemen seharga maksimal Rp300 juta di tengah kota. Padahal, pemilihan tempat tinggal bagi generasi milenial biasanya diberatkan pada lokasi yang dekat dengan tempat kerja di tengah kota seperti Jakarta,” ujar Raetedy Refanatha, Head of Marketing Development rumah123.com.

Karena itu, banyak generasi milenial yang kemudian memilih menyewa apartemen. “Unsur kepraktisan menjadi alasan pertama para generasi milenial tinggal di apartemen. Urusan pemeliharaan apartemen juga jadi bahan pertimbangan,” kata Raetedy.

Umumnya, soal perawatan dan segala kebutuhan sehari-hari di apartemen sudah diurus pengelola gedung, misalnya urusan air, listrik, pembuangan sampah, juga keamanan. Penghuni tinggal membayar sesuai tarif yang ditentukan pengelola apartemen tersebut.

Setiap orang punya pertimbangan masing-masing untuk memilih tinggal di hunian berkonsep rumah tapak atau hunian vertikal seperti apartemen dan rumah susun. Generasi milenial pun dinilai memiliki kecenderungan untuk memilih tinggal di hunian rumah tapak atau landed house .

Menurut Pengamat Perkotaan dari Universitas Trisakti Nirwono Yoga, salah satu faktor yang membuat generasi milenial tidak bisa membeli hunian baik tapak maupun vertikal yakni ketersediaan lahan.

“Baik Jakarta, Surabaya, Bandung, bahkan juga Semarang, Yogya, lahannya terbatas dan sedikit,” ujarnya. Generasi milenial atau anak muda Indonesia tidak memiliki pilihan lain, selain membiasakan tinggal di hunian vertikal, yaitu rumah susun sederhana sewa (rusunawa) ataupun rumah susun sederhana milik (rusunami).

Melihat pada rencana tata ruang wilayah (RTRW) serta rencana detail tata ruang (RDTR) DKI Jakarta 2030 bahwa pemerintah akan menggencarkan pembangunan hunian vertikal untuk mengatasi terbatasnya lahan di Ibu Kota.

“Di dalam RTRW RDTR Jakarta 2030, sebenarnya sudah disebutkan bahwa sampai 20 tahun ke depan pemerintah akan mendorong pembangunan hunian vertikal. Mau tidak mau, anak muda itu sekarang sudah mulai beradaptasi tinggal di hunian vertikal,” tutur Nirwono.

Menurut Direktur Pengembangan PT Adhi Persada Properti Wahyuni Sutantri, generasi milenial perlu sedini mungkin diberi pemahaman terkait tinggal di hunian vertikal agar mereka menjadi terbiasa tinggal di hunian vertikal.

Sebab, rumah tapak di Jakarta harganya semakin mahal. “Karena itu, generasi milenial harus mulai diberi pemahaman untuk tinggal di hunian vertikal yang mempunyai fasilitas lebih lengkap serta biasanya terkoneksi dengan transportasi,” papar Wahyuni.

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini