Image

Menteri Hanif Sebut Minimnya Kompetensi Tenaga Kerja Jadi Kelemahan SDM di Indonesia

ant, Jurnalis · Kamis 26 Oktober 2017, 21:16 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2017 10 26 320 1803170 menteri-hanif-sebut-minimnya-kompetensi-tenaga-kerja-jadi-kelemahan-sdm-di-indonesia-mPyrnCWGp8.jpg Ilustrasi: Okezone

BEKASI - Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri menilai minimnya kompetensi angkatan kerja menjadi salah satu kelemahan Sumber Daya Manusia di Indonesia.

"Padahal faktor kompetensi ini merupakan kunci yang akan menjadi kekuatan dalam berkompetisi di tengah persaingan global," katanya dalam pidato sambutan peresmian Politeknik Ketenagakerjaan di kompleks Balai Besar Pengembangan Latihan Kerja Luar Negeri CEVEST, Kamis (26/10/2017).

Menurut dia, pihaknya menghadirkan Politeknik Ketenagakerjaan yang mulai merekrut mahasiswa angkatan pertamanya pada tahun ajaran 2017/2018 sebagai respons dari minimnya kompetensi angkatan kerja.

Baca juga: Kacau! 30% Tenaga Kerja Masih Alami Diskriminasi

"Dewasa ini konflik hubungan industrial kian kompleks, oleh karenanya butuh SDM yang terampil di bidang ketenagakerjaan ini. Jika semua stakeholder ketenagakerjaan memiliki pemahaman yang memadai, konflik-konflik yang muncul akan tertangani lebih baik," katanya.

Hanif mengatakan, hadirnya Politeknik Ketenagakerjaan ini merupakan proyek "Bandung Bondowoso" yang turut didukung Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi M Nasir dan Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Asman Abnur.

Dalam waktu yang terbilang singkat, kata dia, Politeknik Ketenagakerjaan kini sudah beroperasi dengan 90 mahasiswa sebagai angkatan pertamanya.

"Animonya pun tinggi karena saat pendaftaran dibuka, ada 2.506 peminatnya. Tapi seleksi akhirnya meloloskan 90 mahasiswa saja," katanya.

Ada tiga jurusan yang dapat dipilih di Politeknik Ketenagakerjaan ini, yakni D4 keselamatan dan kesehatan kerja, D4Relasi Industri, dan D3 Manajemen SDM. Hal istimewa yang menjadi keunggulan Politeknik ini ialah lulusannya tak hanya mengantongi ijazah ketika menyelesaikan pendidikannya, tapi juga sertifikat kompetensi.

Baca juga: Akhirnya! DPR Segera Sahkan RUU Perlindungan Pekerja Migran

"Sertifikat kompetensi ini merupakan tiket untuk memasuki arena persaingan global," katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Menristekdikti M Nasir sependapat dengan pentingnya peran sertifikat tersebut. "Sayangnya, dewasa ini masyarakat Indonesia masih berorientasi pada gelar akademik. Akhirnya yang banyak hadir pun ialah institusi pendidikan yang berbasis sains, bukan vokasi," katanya.

Nasir mengatakan, saat ini Indonesia hanya memiliki 16 persen institusi pendidikan berbasis vokasi, sisanya berbasis sains, sementara di Tiongkok, proporsinya justru terbalik karena 70 persen institusi pendidikannya berbasis pada vokasi.

"Pola pikir seperti ini harus diubah karena gelar akademik tidak menjamin kemampuan dan keterampilan akan suatu bidang. Justru kompetensi yang diperoleh dari pendidikan vokasi yang menjadi penentu persaingan nantinya," katanya.

(rzk)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini