Menteri Bambang: Mayoritas Petani Masih Hidup di Bawah Garis Kemiskinan

Ulfa Arieza, Jurnalis · Senin 30 Oktober 2017 19:36 WIB
https: img.okeinfo.net content 2017 10 30 20 1805268 menteri-bambang-mayoritas-petani-masih-hidup-di-bawah-garis-kemiskinan-2mq4WExWMZ.jpg Foto: Ulfa/Okezone

JAKARTA - Menteri Perencanaan Pembangunan (PPN) atau Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro mengungkapkan mayoritas petani masih hidup di bawah garis kemiskinan. Bambang menyebutkan, dari data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2016, 14% penduduk miskin berada di pedesaan. Sehingga pertanian dan pedesaan memberikan kontribusi nyata dalam ketimpangan di Indonesia, sekaligus masih menjadi kantong kemiskinan. 

"Jumlah rumah tangga petani saat ini sekitar 26 juta rumah tangga, sebagian besar mereka masih hidup di bawah garis kemiskinan, " ujarnya di Mercantile Club, Jakarta, Senin (30/10/2017). 

Selain masalah kemiskinan, Bambang melanjutkan, petani masih terkendala dengan rendahnya kepemilikan lahan. Sebut saja di Pulau Jawa, rata - rata kepemilikan lahan di bawah setengah hektar. Belum lagi, petani di Indonesia belum memiliki keterampilan yang mumpuni, serta masih memiliki pendidikan rendah.

Baca juga: Kesejahteraan Rakyat Meningkat, Tingkat Kemiskinan Turun Jadi 10,64%

"Kondisi ini menyebabkan petani sulit untuk mengusahakan lahan itu sendiri pada tingkat yang menguntungkan," kata dia. 

Selain itu, petani Indonesia juga harus dihadapkan dengan kesulitan dalam adopsi teknologi baru. Padahal saat ini, lanjut Bambang, kesejahteraan petani identik dengan teknologi bukan lagi dengan banyaknya petani yang terlibat dalam sektor pertanian.  

Baca juga: Menko Luhut: Penyebab Kemiskinan Itu Infrastruktur!

Dia memberikan contoh petani Australia yang justru dipandang sebagai kelompok masyarakat berada. Petani Australia, menurut Bambang telah berhasil mengadaptasi perkembangan teknologi dalam sektor pertanian mereka. Dengan adanya penerapan teknologi, maka sistem pertanian akan lebih efisien, sehingga memberikan margin yang lebih besar kepada petani. 

"Kuncinya pada lahan yang besar dan aplikasi teknologi baru. Itu yang saat ini masih dari jauh dari yang kita bayangkan bisa  terjadi di Indonesia," kata dia. 

Permasalahan tersebut, menurut Mantan Menteri Keuntungan ini dapat diatasi dengan mengubah paradigma pembangun sektor pertanian. Paradigma pertanian lama yang bertumpu kepada produksi pangan dan juga subsidi terkait pupuk, harus digeser kepada pertanian yang berorientasi pada kesejahteraan petani, dan terutama pada agribisnis.

(kmj)

Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini