Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Rupiah Sempat KO ke Rp13.600/USD, BI: Gara-Gara The Fed

Ulfa Arieza , Jurnalis-Selasa, 31 Oktober 2017 |17:17 WIB
Rupiah Sempat KO ke Rp13.600/USD, BI: Gara-Gara The Fed
Ilustrasi Rupiah. (Foto: Shutterstock)
A
A
A

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) menjelaskan nilai tukar Rupiah sempat berada di posisi Rp13.600 per USD disebabkan oleh imbas daripada rencana kenaikan suku bunga Bank Sentral Amerika The Fed. Pasalnya, rencana tersebut membuat dolar AS mengalami penguatan.

Deputi Senior Gubernur Bank Indonesia (BI) Mirza Adityaswara mengatakan, waktu dan besaran suku bunga tergantung dari arah kebijakan Presiden Amerika Donald Trump.

"Kalau Trump policy, dia menurunkan pajak untuk mengundang uang Amerika balik lagi itu berhasil, maka ekonomi Amerika mau booming, sekarang sudah booming, mau tambah lagi. Maka orang capital market dan ekonom akan pikir inflasi naik, kalau inflasi naik maka suku bunga akan naik lebih cepat," jelas Mirza di Grha CIMB Niaga, Jakarta, Selasa (31/10/2017).

Baca juga: Rupiah Terjungkal, BI Ungkap Pangkal Masalah dari Dolar AS hingga Calon Bos The Fed

Mirza melanjutkan, kecepatan kenaikan suku bunga The Fed ini tidak hanya dipengaruhi oleh inflasi. Tetapi, juga tergantung daripada pengganti Gubernur The Fed yang akan menggantikan Janet Yellen nantinya.

Dia menjelaskan, ada dua tipikal pemimpin dalam sektor keuangan, pertama adalah dovish, seperti Gubernur The Fed Janet Yellen saat ini, di mana orang tersebut cenderung dengan kebijakan suku bunga rendah serta kehati-hatian dalam menaikkan suku bunga.

Baca juga: Dolar AS Makin Perkasa, Rupiah Terlempar ke Rp13.628/USD

Sementara tipe pemimpin lainnya yakni hawkish, yang lebih suka mencegah inflasi naik dengan cara menurunkan inflasi dulu melalui kenaikan suku bunga. "Suku bunga Amerika naik cepat atau tidak selain tergantung inflasi, juga tergantung oleh pilotnya," jelas dia.

Adapun dua nama pengganti Janet Yellen adalah John Taylor dan Jeromy Pawell. Jeromy Pawell adalah pemimpin dengan tipe dovish, sedangkan John cenderung hawkish. Menurut berita, Trump akan mengumumkan nama pemimpin The Fed yang baru sebelum 3 November 2017.

(Martin Bagya Kertiyasa)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement