Eric memprediksi, pertumbuhan kredit pada 2018 bisa membaik dibandingkan 2017. Hal tersebut dikarenakan, pertumbuhan ekonomi tahun depan diperkirakan bisa lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi tahun ini. “Dengan demikian, dari sisi demand kredit juga bisa tumbuh lebih kuat,” sebutnya.
Kemudian jika dilihat dari sisi suplai kredit, sambung dia, kebijakan pelonggaran moneter oleh Bank Indonesia (baik dengan pemotongan BI-7 day repo rate maupun kebijakan makroprudensial) telah turunkan suku bunga kredit. “Tahun ini saya perkirakan pertumbuhan kredit berada di kisaran 8-9%, sementara tahun depan bisa sekitar 10-12%,” kata Eric.
Sementara itu, PT Bank Central Asia (BCA) Tbk menilai, penyaluran kredit pada kuartal III/2017 cukup berat. Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja mengatakan, penyaluran kredit perseroan hingga kuartal III/2017 sejak awal tahun sudah mencapai 8%.
Sementara apabila dibandingkan periode sama tahun lalu, mengalami pertumbuhan 14%. Pertumbuhan tidak terlalu signifikan karena kuartal tiga tahun lalu penyaluran kredit sudah cukup tinggi.
“Kuartal tiga memang berat dalam penyaluran kredit. Debitur mengembalikan pinjamannya pasca-Lebaran karena mereka tidak butuh pinjaman untuk memenuhi stok. Karena itu, kami berharap jelang akhir tahun ini bisa mendongkrak permintaan kredit,” ujar Jahja.
(Martin Bagya Kertiyasa)