"Saya lihat dari sisi bank sih sebenarnya siap, terlihat dari diclose loan-nya yang besar. Kan artinya dia sudah menyediakan tapi tidak ditarik. Jadi bukan dari sisi banknya, banknya siap mengucurkan dana kok. Tapi masih perlu kami teliti, apakah benar demand-nya yang tidak ada? Kan belum tentu. Harus ada penelitian yang lebih konkrit soal itu, kenapa banknya sudah siap untuk kucurkan dana tapi kenapa kok realisasinya masih seperti itu," jelasnya.
Baca Juga: BI Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Kredit 2017 Jadi 8%
Meski begitu, Heru tetap optimis jika pertumbuhan kredit hingga akhir 2017 bisa mencapai target. Bahkan dirinya optimis pertumbuhan kredit hingga akhir tahun bisa mencapai dua digit atau melebihi target dari yang dipatok perbankan.
"Kalau saya sih optimis ya mendekati rencana bisnis sebesar 11,8%. Mudah-mudahan. Kemarin kan September masih pesimis, ternyata di Oktober melonjak dari 7% ke 8,18 %. Siapa tau nanti di data November mendekati 10%," jelasnya.
Sebagai informasi, OJK sendiri pada tahun ini menargetkan pertumbuhan kredit bisa mencapai angka 10%. Sementara Bank Indonesia menurunkan perkiraan pertumbuhan kreditnya menjadi 8% dikarenakan konsolidasi Perbankan dan permintaan yang lesu.
(Dani Jumadil Akhir)