Image

Bekraf: Ekonomi Kreatif Sumbang Rp990,4 Triliun

Koran SINDO, Jurnalis · Rabu 29 November 2017 10:07 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2017 11 29 320 1822404 bekraf-ekonomi-kreatif-sumbang-rp990-4-triliun-Zlw1kdgbQR.jpg Ilustrasi: (Foto: Okezone)

JAKARTA – Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) mencatat kenaikan kontribusi ekonomi kreatif terhadap total Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia dalam tiga tahun terakhir. Pada 2017 kontribusi ekonomi kreatif terhadap PDB diprediksi mencapai Rp990,4 triliun.

Angka tersebut mengalami kenaikan dari tahun 2016 yang sebesar Rp894,6 triliun dan naik dari 2015 yang sebesar Rp852 triliun. Pencapaian tersebut kian menambah optimisme Bekraf bahwa ekonomi kreatif bisa menjadi poros ekonomi terbaru Indonesia di masa mendatang.

Sektor ini pada 2017 juga mampu menyediakan pekerjaan bagi 16,4 juta orang naik di bandingkan tahun 2016 sebanyak 16,2 juta dan 16,96 juta pekerja tahun 2015.

”Contoh terbaik dari kekuatan ekonomi kreatif Indonesia ialah saat novel Andrea Hirata yang sangat laris sehingga dibikin film dan akhirnya menghidupkan perekonomian di Belitung. Kami ingin mendorong nilai tambah selain kreativitas sehingga menghasilkan multiplier effect besar untuk masyarakat,” ujar Wakil Kepala Bekraf Ricky Joseph Pesik dalam jumpa pers di Jakarta. Dengan ditunjang ilmu teknologi, pengetahuan, informasi, dan inovasi yang mumpuni, ekonomi kreatif mampu memberikan dampak besar.

Baca Juga: Wih, Ekonomi Kreatif Sumbang PDB hingga Rp1.000 Triliun

Menurut hasil riset gabungan yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) dan Bekraf pada 2015, sektor ekonomi kreatif yang terdiri dari 16 subsektor usaha kreatif berhasil menyerap 15,9% tenaga kerja dan menyumbangkan nilai ekspor sebesar USD19,4 miliar.

Untuk mengembangkan potensinya, Bekraf merangkul 16 sub sektor usaha kreatif dalam arah kebijakan ekonomi kreatif ter diri dari kreasi, produksi, distribusi, konsumsi, dan konservasi untuk menciptakan ekosistem yang baik di masa depan.

Sejumlah kota di Indonesia saat ini juga sudah aktif mengembangkan sektor kreatif, bahkan mendeklarasikan diri sebagai kota kreatif, contohnya Yogyakarta. ”Yogyakarta meraup pendapatan lebih dari Rp180 miliar per tahun dari pengembangan aplikasi dan game,” kata Direktur Fasilitasi Infrastruktur TIK Bekraf Muhammad Neil El Himam.

Selain itu, guna melindungi karya kreatif dari pembajakan, Bekraf mendorong dan memfasilitasi pelaku usaha kreatif untuk mendaftar atau memiliki sertifikat Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Deputi HKI dan Regulasi Bekraf Ari Juliano Gema mengungkapkan, dari sekitar 11 juta lebih unit usaha ekonomi kreatif, hanya 11,05% yang punya HKI.

Jumlah yang masih sangat minim itu, menurut dia, karena ada dua hal, yaitu kekurangpahaman akan HKI serta kesulitan teknis dan finansial. ”Untuk meningkatkan pemahaman, Bekraf melakukan sosialisasi HKI secara masif, termasuk membuat aplikasi seluler Biima,” katanya.

Sementara itu, guna membantu permodalan, Bekraf telah memfasilitasi penyaluran modal dari perbankan senilai Rp4,2 triliun atau 859,53% di atas target kepada 2600 orang pelaku ekonomi kreatif. Nilai ini sekaligus mencatatkan pertumbuhan hingga 130% dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Baca Juga: Tak Mungkin Larang Produk Asing Masuk, Produk Kreatif Harus Naik Kelas!

Sebagai pihak yang mempertemukan pemilik dana dengan pelaku usaha kreatif, Bekraf juga mempertemukan modal Rp96,75 miliar dari sumber nonbank kepada 1092 orang pelaku ekonomi kreatif. ”Permodalan dari bank tahun 2016 mencapai Rp4,2 triliun dari bank konvensional dan Rp77,2 miliar dari perbankan syariah.

Aktivitas permodalan berhasil meningkat untuk pelaku ekonomi kreatif,” ujar Deputi Akses Permodalan Bekraf Fadjar Hutomo. Sebagai tambahan, Bekraf juga membantu pendanaan bagi startup dan usaha pemula melalui skema Bantuan Insentif Pemerintah (BIP).

Direktur Perencanaan dan Ope rasional BNI Bob Tyasika Ananta mengatakan, perbankan membutuhkan skema permodalan yang sesuai untuk mendorong penyaluran kredit ba g i industri kreatif. Meskipun ingin memperbesar porsi kredit industri kreatif, tapi pihaknya juga harus menjaga prudential atau keamanan bisnisnya.

Dia menilai intervensi pemerintah seperti KUR dibutuhkan sehingga perbankan lebih percaya diri masuk membiayai. ”Kami baru fokus di subsektor kuliner, fashion, dan digital. Bank coba cari bentuk optimal dan harus dilihat peluang. Kami akan masuk dengan selektif,” ujar Bob pada kesempatan sama.

Dia juga menjelaskan, niat BNI memiliki modal ventura sehingga bisa lebih nyaman membiayai industri kreatif. Pihak nyama sih mengkaji strateginya apakah secara organik atau anorganik. Satu perhatian utama BNI dalam mendanai industri kreatif ialah yang bisa mendorong bisnis BNI dan semua anak usahanya.

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini