Image

Pabrik Gasifikasi Batu Bara Besutan PTBA Mulai Dibangun Akhir 2018

Giri Hartomo, Jurnalis · Jum'at 08 Desember 2017, 14:08 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2017 12 08 320 1827306 pabrik-gasifikasi-batu-bara-besutan-ptba-mulai-dibangun-akhir-2018-9ggwEPjLd5.jpg Foto: Giri Hartomo/Okezone

JAKARTA - PT Bukit Asam Tbk menjalin kerjasama dengan tiga perusahaan yakni PT Pertamina (Persero), PT Pupuk Indonesia Tbk dan PT Chandra Asri Petrochemical Tbk. Kerjasama tersebut bertujuan untuk memanfaatkan hilirisasi produksi batu bara dari PT Bukit Asam.

Direktur Utama PT Bukit Asam Arviyan Arifin mengatakan selain itu, pihaknya juga berencana untuk membangun pabrik pengolahan gasifikasi batu bara pada Bukit Asam Coal Based Industrial Estate (BACBIE) yang berada di mulut tambang Tanjung Enim, Sumatera Selatan. BACBIE akan berada pada satu lokasi yang sama dengan PLTU Mulut Tambang Sumsel 8.

"Dengan kerjasama ini, kami berencana membangun KEK dengan ketersediaan pembangkit listrik mulut tambang mendorong industri ini lebih kompetitif. Yang pada akhirnya akan bermanfaat kami dari bukit asam dengan segala potensi yang ada tentunya ini akan bermanfaat," ujarnya dalam acara Konfrensi pers di Hotel Grand Hyatt, Jakarta, Jumat (8/12/2017).

Baca juga: Bukit Asam Gandeng Pertamina-Pupuk Indonesia-Chandra Asri Garap Hilirisasi Batu Bara

Lebih lanjut Arifin mengatakan, nantinya pembangunan pabrik untuk pengolahan gasifikasi batu bara direncanakan akan mulai dilakukan konstruksinya pada awal tahun 2019. Sehingga pada November 2022, pabrik pengolahan gasifikasi batu bata sudah mulai bisa beroperasi.

"Kita harapkan ya komersilnya tahun 2022, kalau konstruksi dalam setahun ini sedang kita persiapkan mungkin di akhir 2018 atau awal 2019," jelasnya.

Dengan adanya pabrik ini nantinya, diharapkan produksi dapat memenuhi kebutuhan pasar sebesar 500 ribu ton urea per tahun, 400 ribu ton DME per tahun dan 450 ribu ton Polypropylene per tahun. Dengan target pemenuhan kebutuhan sebesar itu, diperkirakan kebutuhan batubara sebagai bahan baku sebesar 9 juta ton per tahun termasuk untuk mendukung kebutuhan batubara bagi pembangkit listriknya.

Sehingga lanjut Arifin, produk yang dihasilkan bisa lebih memberikan suatu nilai tambah bagi perusahaan perusahaan tersebut. Pasalnya, semua kebutuhan listrik dan segala sesuatunya didukung oleh pasokan batu bara yang melimpah.

Baca juga: Jangan Hanya Fokus Penerimaan, Tata Kelola Batu Bara Perlu Seimbangkan Lingkungan

"Apa yang kita lakukan ini akan memberikan suatu nilai tambah. Artinya produk yang akan diserap harus memberikan biaya yang lebih rendah. Khususnya untuk pupuk harganya harus lebih rendah dari yang ada," jelasnya.

Sementara itu dalam kesempatan yang sama, Direktur Utama PT Pupuk Indonesia (Persero), Aas Asikin ldat mengatakan dengan pembangunan kawasan ekonomi khusus , pihaknya melalui anak usaha Pupuk Sriwijaya berencana membangun pabrik di sekitar mulut tambang miliki PT Bukit Asam. Selain pasokan listrik yang menjamin dan low cost, pabrik milik pupuk sriwijaya juga relatif sudah tua dan butuh pabrik yang baru.

"Intinya kerjasama yang dilakukan antara bukit asam Pertamina bisa memberikan hal yang lebih baik. Khsusunya Pusri yang merupakan anggota dari pupuk Indonesia," jelasnya.

Sementara itu, Presiden Direktur PT Chandra Asri Petrochemical Tbk, Erwin Ciputra menambahkan Polypropylene berbasis batu bara ini dapat membantu Indonesia dalam memenuhi kebutuhan Polypropylene domestik. Dirinya juga bukan tidak mungkin akan membangun pabrik yang berada di sekitar mulut tambang milik bukit asam. Namun hal tersebut harus terlebih dahulu melihat dari potensi yang ada di sana.

“Saat ini, produksi Polypropylene belum mencukupi kebutuhan dalam negeri sehingga kerjasama ini akan mengurangi impor yang jumlahnya masih besar dan terus meningkat. Kalau Candra asih punya pabrik di Cilegon. Kalau memang potensinya luar biasa ya mungkin Cilegon pindah kesini," jelasnya.

(rzk)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini