JAKARTA - Gedung AA Maramis atau Gedung Daendels yang berlokasi di Jalan Lapangan Banteng Timur direncanakan akan direnovasi. Daendels yang dibangun pada 7 Maret 1809 ini pun diyakini bisa menjadi tempat belajar karena memiliki sejarah yang banyak.
Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, pihaknya sudah melakukan koordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) terkait rencana renovasi ini. Sebelum dikerjakan akan dibuatkan perencanaan.
Baca juga: Gedung Daendels yang Bersejarah Bakal Dialihkan ke LMAN, Berapa Nilainya?
"Kamis sudah bicara dengan Pak Menteri PU kan ini gedungnya bagus dan merupakan heritage warisan nanti lihat bagaimana perencanaannya," ujar Sri Mulyani di Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat (29/12/2017).
Menurut dia, Indonesia harus mempresentasikan kota-kota dengan sejarahnya masa lalu yang bisa dipakai untuk belajar, pengalaman dan perjalanan Republik ini.
Baca juga: Gedung Daendels Kemenkeu Siap Direkonstruksi, Berapa Biayanya?
"Nah itu bisa diceritakan dengan dari berbagai macam gedung, lokasi tempat bersejarah. Gimana Indonesia jadi sekarang ini kan jadi penjelasan indonesia masa lalu jadi tau sejarahnya seperti apa dan agar menjadi sumber sejarh yang baik," ujarnya.
Sediikit sejarah, Gedung AA Maramis atau Gedung Daendels yang berlokasi di Jalan Lapangan Banteng Timur ini merupakan gedung bersejarah. Di balik kokohnya gedung ini, ada sosok Daendels di balik berdirinya gedung putih ini.
Gedung yang dikenal dengan nama AA Maramis atau Daendels ini dibangun pada 7 Maret 1809 atas prakarsa Gubernur Jenderal Hindia Belanda Herman Willem Daendels. Ia berencana untuk memindahkan istana Batavia yang mulai kumuh di muara Sungai Ciliwung ke wilayah pusat ibu kota baru Weltevreden.
Baca juga: Bakal Dialihkan ke LMAN, Begini Sejarah Gedung Daendels
Mulanya, bangunan ini dirancang sebagai pendamping istana Gubernur Jenderal di kota Bogor atau Buitenzorg Paleis. Bangunan ini dirancang oleh seorang arsitek Ir. Letkol JC. Schultze yang juga merancang Societeit Harmonie dan mencakup bangunan utama yang besar dengan sayap di setiap sisinya untuk kantor Gubernur Jenderal.
Tidak hanya itu, kantor-kantor pemerintah harus terpisah. Selain itu, ada juga rumah tamu dan kandang untuk 120 kuda. Rencana pembangunan Istana Daendels tak pernah terwujud meski rencananya, pondasi menggunakan material dari kasteel lama.
Pada masa pemerintahan Janssens (1811), hanya dipasang atap sederhana di atasnya. Sedang pada masa Raffles, pembangunan istana juga tak berhasil dilanjutkan. Istana Daendels menjadi bangunan rapuh dan kotor dengan burung hantu di depannya.
Bangunan ini berhasil diselesaikan pada tahun 1828 dan diresmikan oleh Komisaris Jenderal L.P.J Du Bus de Ghisignies. Namun karena biaya yang terbatas membuat bangunan ini belok dari tujuan utamanya yang difungsikan sebagai istana. Akhirnya bangunan ini dijadikan kantor besar urusan keuangan Negara dan instansi pemerintah penting lainnya.
(Fakhri Rezy)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.