Share

Paparkan Realisasi APBN-P 2017, Sri Mulyani: Defisit 2,57% di Bawah Target Pemerintah

Lidya Julita Sembiring, Okezone · Selasa 02 Januari 2018 16:10 WIB
https: img.okezone.com content 2018 01 02 20 1838917 paparkan-realisasi-apbn-p-2017-sri-mulyani-defisit-2-57-di-bawah-target-pemerintah-405ABZpXN4.jpg (Foto: Lidya/Okezone)

JAKARTA - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati hari ini memaparkan realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2017. Sepanjang tahun ini, realisasi APBN sangat mengembirakan karena baik dari segala sektor mengalami perbaikan.

"Tahun 2017 dari sisi APBN secara khusus menunjukkan suatu kinerja dan realisasi yang sangat positif atau menggembirakan. Ini dilihat dari semua komponen pendapatan belanja dan tingkat defisit APBN," ungkap Sri Mulyani di Kemenkeu, Jakarta, Selasa (2/1/2017).

 Baca Juga: Buat Sayembara, Sri Mulyani Siap Deliver Pizza untuk KPP yang Capai Target Pajak 100%

Sri Mulyani menjelaskan, hingga saat ini defisit tercatat lebih rendah dari target pemerintah sebesar 2,67%. Angka ini bahkan bisa mengalami penurunan jika penerimaan pertambahan pahak sekitar Rp4 triliun dikalkulasikan di APBN.

"Defisit APBN tahun 2017 hanya sebesar 2,57%. Ini di bawah range yang selama ini kami selalu komunikasikan antara 2,6% dan di APBN-P bahkan tercantum 2,92%. Jadi angka ini 2,57%, ini hanya 87,2% dari estimasi APBN-P," jelasnya.

 Baca Juga: Kejar Penerimaan Negara, Menkeu Minta Bank Tetap Buka hingga 30 Desember

Dengan demikian, maka keseimbangan primer mengecil menjadi negatif Rp129,3 triliun dari di APBNP 2017 negatif Rp178 triliun. Sementara itu rasio utang terhadap PDB terkendali di bawah 30% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Sementara itu, penerimaan perpajakan 2017 Rp1.339,8 triliun atau 91% dari target di APBNP 2017. Angka ini tumbuh 4.3% dari 2016 karena adanya program tax amnesty yang dilakukan Pemerintah di 2016 sebanyak dua kali selama 6 bulan di 2016 dan 3 bulan di 2017. Namun jika program tax amnesty di keluarkan maka pertumbuhan perpajakan 2017 sebesar 12,6% dibandingkan 2016.

"Ini menunjukkan suatu peningkatakan yang sangat baik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Pertumbuhan perpajakan tahun 2015 hanya 8,2% dan sayangnya itu hanya 83,3% dibandingkan tahun ini 91%. Tahun 2016 bahkan dengan tax amnesty adalah sebesar 83,5% atau hanya tumbuh 3,6%," jelasnya.

 Baca Juga: Ekonomi RI Tahun Depan Ditarget 5,4% dengan Belanja Negara Rp2.220 Triliun

Sri Mulyani juga memaparkan pertumbuhan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) 2017 mencapai lebih dari 100% pertumbuhannya yaitu 100,6%. Pemerintah mencatat di akhir tahun pertumbuhannya lebih kuat dari yang di sampaikan November lalu yaitu 12,13, namun saat ini pertumbuhan PPN seluruh tahun tercatat 16% dibandingkan tahun 2016 PPN hanya 86,9% dan gross dari PPN 2016 juga negatif 2,7%.

"Tahun 2017 PPN tumbuh 16%, dari kita lihat momentumnya luar biasa tingginya. Hal ini semua menunjukkan bahwa penerimaan perpajakan di dalam APBN kita telah menunjukkan suatu tren yang makin sehat dan ini akan menopang tujuan kita untuk menjaga APBN yang sehat, kredibel, dan stabil," paparnya.

Baca Juga: 50 Tahun Berkarya, Indomie Konsisten Hidupkan Inspirasi Indomie untuk Negeri

Follow Berita Okezone di Google News

Sementara itu, penerimaan kepabeanan dan cukai mencapai Rp192,3 trillun atau 101,7% dari APBNP 2017 didukung membaiknya kinerja cukai, meningkatnya ekspor, komitmen Pemerintah mengendalikan barang dan dampak positif dari program penertiban importir berisiko tinggi (PIBT) serta program penemban cukai berisiko tinggi (PCBT) yang diluncurkan pada pertengahan Juli 2017.

"Penerimaan kepabeanan dan cukai juga menunjukkan suatu hasil yang sangat positif. Bea cukai mencapai penerimaan 101,7 melebihi target APBN-P. Ini adalah capaian di atas 100% dan yang pertama kali terjadi sejak tiga tahun terakhir," katanya.

Sementara itu, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar Rp308.4 triliun atau mencapai 118.5% dari target APBNP 2017. Hal ini didukung oleh meningkatnya permintaan dan harga komoditas yakni ICP dan batubara, perbaikan Iaba BUMN, serta perbaikan layanan PNBP K/L.

"PNBP mengalami juga mengalami kenaikan yang sangat besar yaitu 118,5% dari APBNP," tukasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini