Image

Ekonomi Tak Capai Target, JK: Jangan Kambinghitamkan Komoditas Lagi

Ulfa Arieza, Jurnalis · Selasa 02 Januari 2018, 11:15 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 01 02 320 1838728 ekonomi-tak-capai-target-jk-jangan-kambinghitamkan-komoditas-lagi-kngFXbsj66.jpg Wapres Jusuf Kalla. (Foto: Okezone)

JAKARTA - Pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak mampu mencapai tingkat optimalnya, meskipun indikator perekonomian menunjukkan penguatan. Bahkan, komoditas yang dulu menjadi penghambat laju perekonomian kini sudah kembali pulih.

Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan, harga komoditas kini berangsur membaik. Oleh karena itu, JK mengatakan bahwa harga komoditas tidak dapat dikambinghitamkan sebagai penyebab anomali pertumbuhan ekonomi.

"Harga komoditas yang dulu selalu kita kambing hitambakan dalam ekonomi itu, sekarang sudah baik. Jadi sekarang kita tidak bisa kambing hitamkan harga komoditas," katanya di Gedung BEI, Jakarta, Selasa (2/1/2018).

"Dulu kita tumbuh 5% karena harga batu bara turun, karet turun, sawit turun sekarang Alhamdulilah naik," tambah dia.

Baca Juga: Catat! 11 Komoditas Strategis Modal Indonesia Jadi Lumbung Pangan Dunia

Menurutnya, dalam waktu dekat Wapres menyebut akan berdiskusi dengan Badan Pusat Statistik (BPS) terkait dengan kondisi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tidak secepat negara lain sedangkan indikator pertumbuhan ekonomi dalam kondisi positif.

"Jadi mungkin nanti kita akan berdiskusi panjang dengan BPS sebenarnya tingkat cara menghitung. Kenapa negara lain bisa lebih tinggi dari kita, padahal indikator dalam negeri kita semuanya dalam kondisi positif untuk suatu perubahan ekonomi," kata dia.

Sebelumnya, Wapres Jusuf Kalla menyebutkan ada sebuah anomali dalam perekonomian Indonesia. Menurutnya, hampir semua indikator ekonomi nasional membaik namun pertumbuhan ekonomi tidak bisa secepat yang diinginkan.

Baca Juga: ADB Ramal Indonesia Cs Raih Untung dari Kenaikan Harga Komoditas

Pasalnya, saat ini angka inflasi yang masih terkendali. Di samping itu, meskipun pemerintah meningkatkan porsi utang, namun masih dalam rasio kemampuan membayar utang oleh Negara. Utang yang diambil oleh Pemerintah juga dialokasikan untuk kepentingan yang bersifat produktif.

Sementara dari sisi politik eksternal, Indonesia juga tidak memiliki sentimen negatif dalam perihal geo politik yang dapat mempengaruhi stabilitas ekonomi. Dengan semua kondisi tersebut, Wapres menyebutkan ada sebuah anomali, lantaran pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak seagresif pertumbuhan ekonomi negara lain.

Turut mendampingi Wakil Presiden Jusuf Kalla dalam pembukaan perdagangan perdana di pasar modal, hadir Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution, Menteri Keuangan Sri Mulyani, Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo, Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo.

(mrt)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini