Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Sri Mulyani Usul Bentuk Triple Helix Hadapi Boom Era Digital

Feby Novalius , Jurnalis-Sabtu, 03 Februari 2018 |19:34 WIB
Sri Mulyani Usul Bentuk <i>Triple Helix</i> Hadapi <i>Boom</i> Era Digital
Foto: Feby/Okezone
A
A
A

DEPOK Booming-nya perkembangan teknologi digital saat ini mengharuskan sistem pendidikan Indonesia harus lebih kreatif lagi. Pasalnya, ketika suatu start up muncul, kebutuhan akan bakat-bakat teknologi seperti insinyur, programmer menjadi semakin tinggi pemenuhannya menjadi sulit.

Menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani, pemerintah akan berupaya menciptakan lingkungan pendidikan yang kondusif guna memunculkan bakat-bakat tersebut. Dia berharap reformasi pendidikan dengan anggaran yang begitu besar bisa mendukung pertumbuhan ekonomi digital dengan berinovasi secara kreatif.

Baca Juga: Sri Mulyani: Insinyur Indonesia Kebanyakan Jadi Politisi

Sebenarnya, kata mantan Direktur Bank Dunia ini, tantangan tersebut akan lebih mudah dipecahkan dengan menerapkan pendekatan triple helix. Dia menjelaskan, triple helix adalah sinergi antara akademisi, pemerintah dan sektor bisnis atau swasta dalam pengembangan penelitian bidang tertentu.

"Jadi akademisi, dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, berperan menghasilkan temuan, rekomendasi dan inovasi yang aplikatif bagi masyarakat dan dunia usaha," ujarnya, di Balairung UI Kampus, Jawa Barat, Sabtu (3/2/2018).

Triple helix, lanjut Sri Mulyani, dibutuhkan karena belanja penelitian dan pengembangan di Indonesia masih tertinggal jauh dari negara-negara lain bila diukur dari proporsi belanja litbang terhadap GDP. Korea Selatan sudah 4,1%, Jepang sebesar 3,5%, Finlandia 3,3%, China 2%, Singapura 2% dan Malaysia 1,1%. Sedangkan Indonesia proporsinya baru 0,21% pada 2016.

Baca Juga: Nostalgia Sri Mulyani di UI: Saya seperti Orang Desa Masuk Ibu Kota saat Kuliah

"Tidak hanya dari segi jumlah dana, namun cara kita membelanjakan anggaran pendidikan, penelitian dan pengembangan perlu untuk diubah dengan fokus pada kerjasama dan insentif dengan pihak swasta," tuturnya.

Dia melanjutkan, era disrupsi teknologi dan apa yang dikenal sebagai situasi volatility, uncertainty, complexity dan ambiguity (VUCA) saat ini, sinergi stakeholder perguruan tinggi menjadi sangat penting.  Oleh karena itu, pemerintah siap berkoordinasi dan berkolaborasi erat dengan para akademisi dan swasta untuk menciptakan sinergi.

Baca Juga: Sri Mulyani: Utang Indonesia Salah Satu yang Terendah di Dunia

"Melalui kerjasama triple helix, penelitian yang dibuat oleh akademisi dapat lebih diaplikasikan untuk pembangunan bangsa melalui penerapan di dunia industri dan penyusunan kebijakan," terangnya.

Dalam perkembangannya, di masa mendatang, kerjasama triple helix akan berubah menjadi kerjasama N-helix. Di mana pemangku kepentingan akan semakin banyak.

"Tidak hanya melibatkan pemerintah, pihak swasta dan perguruan tinggi, tetapi kelompok masyarakat, individu dilantropi dan organisasi lain baik dalam maupun luar negeri," tandasnya.

(Kurniasih Miftakhul Jannah)

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement