Beras Impor Bakal Banjiri Indonesia hingga Akhir Februari

Feby Novalius, Jurnalis · Selasa 13 Februari 2018 10:38 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 02 13 320 1858748 beras-impor-bakal-banjiri-indonesia-hingga-akhir-februari-mpCjDujiTZ.jpg Ilustrasi Beras (Foto: Okezone)

JAKARTA - Musim panen raya saat ini berbarengan dengan beras impor yang sebelumnya direncanakan untuk menstabilkan lonjakan harga di awal tahun. Tercatat dari 281 ribu ton yang rencananya diimpor, sudah datang 57 ribu ton beras asal Vietnam.

Sekertaris Perusahaan Perum Bulog Siti Kuwati mengatakan, selama Febuari 2018 seluruh beras impor tiba di Jakarta. Di mana dari jumlah beras impor yang sudah tiba sebanyak 57 ribu ton baru dari Vietnam.

"Thailand belum sampai. Itu akan masuk berturut-turut sampai dengan akhir Febuari," tuturnya kepada Okezone.

Baca Juga: 6.000 Ton Beras Impor di Pelabuhan Merak Belum Dibongkar

Siti tidak mendetailkan kapan lagi waktu beras impor datang dan berapa jumlahnya. Dia hanya mengatakan, beras akan kembali datang dalam bulan ini. "Sampai akhir Febuari masuk," ujarnya.

Sebelumnya, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman sudah mendatangi Kementerian Koordinator bidang Perekonomian untuk melaporkan daerah di Indonesia yang sudah panen padi di awal Febuari 2018.

Bahkan Ketua Kontak Tani dan Nelayan Andalan (KNTA) Kalimantan Selatan Muharram berpendapat, provinsinya yang kini berpenduduk empat juta jiwa belum perlu mendatangkan beras impor.

Pasalnya produksi pada atau beras Kalse tiap tahun meningkat serta surplus, sebagaimana keterangan Dinas Ketahanan Pangan, serta Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura provinsi setempat.

Baca Juga: 20.000 Ton Beras Impor Segera Masuk Sumut

Sebelumnya, Direktur Utama Perum Bulog Djarot Kusumayakti mengatakan, untuk mengimpor beras diperkirakan butuh dana sebesar Rp 3,6 triliun. Dana tersebut setelah menghitung dari mulai harga beras, bea masuk, asuransi dan beberapa hal lainya yang diperkirakan Rp7.300.

Jumlah tersebut langsung dikalikan jumlah beras yang diimpor. Artinya Rp7.300 dikalikan 500.000 ton beras hasilnya sekitar Rp3,6 triliun.

Menurut Djarot, dana sebesar Rp3,6 triliun nantinya berasal dari kas perseroan. Adapun posisi keuangan kas Bulog saat ini sebesar Rp9,8 triliun.

Jumlah tersebut merupakan akumulasi dari kas Bulog dan juga kreditor. Dimana kreditor yang dimaksud merupakan kreditor resmi dan bukanlah suplayer.

Lebih lanjut Djarot mengatakan, nantinya proses impor tersebut dilakukan secara profesional atau business to business (B to B). Peserta yang mengikuti lelang diharuskan terdaftar sebagai asosiasi pengekspor beras di negara-negara yang telah ditunjuk.

6.000 Ton Beras Impor di Pelabuhan Merak Belum Dibongkar

Sebelumnya, Sekertaris Perusahaan Perum Bulog Siti Kuwati mengatakan, rencananya ada 281 ribu ton beras yang akan diimpor, dari rencana sebelumnya 500 ribu ton. Beras tersebut akan didatangkan dari dua negara Thailand dan Vietnam.

Dia menerangkan, beras impor yang sudah datang itu merapat di beberapa pelabuhan. Seperti di Pelabuhan Tenau, Kupang, Nusa Tenggara Timur, sudah dibongkar sebanyak 10 ribu ton.

Kedatangan beras impor asal Vietnam ini berbarengan dengan musim panen. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan, sudah mulai terjadi panen di sejumlah daerah Indonesia. Mulai dari Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Bahkan panen pada saat ini dikhawatirkan akan membuat harga gabah kering panen di petani menurun hingga pemerintah akan membuat tim khusus agar harga tidak jatuh terlalu jauh dari Harga Pokok Penjualan (HPP).

1 / 2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini