Image

Menteri Bambang Minta BKKBN Ubah Slogan Keluarga Berencana Tidak Lagi "2 Anak Lebih Baik"

Lidya Julita Sembiring, Jurnalis · Rabu 14 Februari 2018 17:42 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 02 14 320 1859610 menteri-bambang-minta-bkkbn-ubah-slogan-keluarga-berencana-tidak-lagi-2-anak-lebih-baik-xsiVYo8Jwr.jpg (Foto: Parentsindia)

JAKARTA - Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro meminta Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) untuk mengubah motto yang saat ini diterapkan yakni 'dua anak lebih baik'.

Bambang menilai motto ini sering membuat masyarakat berpikir bahwa dua anak saja sudah cukup dan akan lebih baik padahal itu akan membuat indonesia semakin cepat memasuki fase penduduk usia tua (aging population).

Baca juga: RI Bisa Keluar dari Jebakan Negara Berkembang Berkat Usia Penduduk Produktif

Dia menilai saat ini Indonesia membutuhkan lebih banyak lagi masyarakat usia produktif untuk bisa membawa Indonesia keluar dari jebakan negara berkembang (middle income trap).

"BKKBN saya usulkan coba ubah mottonya, tadinya kan mottonya dua anak cukup atau maksimal dua anak. Kalau gini kan berarti anaknya bisa dua atau kurang dari dua. Ini akan mempercepat aging population seperti Jepang dan China," ungkap Bambang di Gedung BPS, Jakarta, Rabu (14/2/2018).

Baca juga: Mobilitas Masyarakat Tinggi, BPS Gunakan Teknologi Canggih Sensus Penduduk 2020

Menurutnya, selain membutuhkan usia produktif untuk bisa keluar dari middle income trap, Indonesia juga setidaknya ekonominya bisa tumbuh minimal sebesar 5% setiap tahunnya hingga 2038. Karena jika sampai memasuki aging population maka akan sulit bagi Indonesia. Pasalnya usia tua tidak bisa lagi didorong untuk membantu pertumbuhan ekonomi Indonesia.

"Indonesia naik kelas dari middle income jadi high income dan mulai fase negara maju kalau kita tumbuh 5% saja, sampai 2038. Kita bisa graduate jadi high income country. Untuk jaga-jaga maka kita harus siapkan, jangan sampai kita belum kaya ketika pensiun," jelasnya.

"Jadi jangan sampai Indonesia sudah keburu aging sebelum jadi negara maju. Kalau seperti itu, Indonesia akan susah jadi negara maju, tidak mungkin kita punya daya dorong pertumbuhan kalau penduduknya sudah aging," imbuhnya.

Baca juga: BPS Buka Lowongan 1 Juta Orang Bantu Sensus Penduduk 2020

Bambang mengatakan, hal ini sudah terjadi di Jepang, Rusia dan Singapura yang sudah memasuki masa aging population dikarenakan memiliki anak di bawah 2. Bahkan kebijakan yang diberikan pemerintahnya tidak bisa mendorong masyarakatnya untuk membuat anak lebih banyak.

"Insentif fiskal tidak akan bisa memacu kembali pertumbuhan penduduk, karena orang-orang makin rasional, emang besarkan anak gampang dinilai dengan cuma sekian dolar. Jadi sebelum kita kepepet dan bikin insentif fiskal yang enggak jalan, lebih baik plan dari sekarang. Di sinilah pentingnya membentuk SP 2020," tukas Bambang.

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini