nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

BI Beberkan Masalah Utama Mata Uang Dunia Anjlok, Termasuk Rupiah

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Kamis 15 Februari 2018 20:41 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 02 15 278 1860293 bi-beberkan-masalah-utama-mata-uang-dunia-anjlok-termasuk-rupiah-POJ8cULwow.jpg Ilustrasi: (Foto: Okezone)

JAKARTA - Nilai tukar Rupiah mengalami tren terdepresiasi akhir-akhir ini. Bank Indonesia mengungkapkan mata uang Garuda ini pada perdagangan kemarin berada di kisaran Rp13.600 per USD atau rata-rata terdepresiasi 0,4% year on year (yoy).

Gubernur BI Agus Martowardojo mengatakan, tren pelemahan mata uang ini bukan hanya terjadi pada Indonesia saja, tetapi secara global. Hal ini dikarenakan pemulihan ekonomi Amerika Serikat.

"Kita melihat bahwa sebelumya awal tahun sampai Januari, sebetulnya ada penguatan kemudian pelemahan di Februari karena perkembangan di Amerika yang berdampak pada seluruh mata uang di dunia," ungkap Agus dalam konferensi pers di Gedung BI, Jakarta, Kamis (15/2/2018).

 Baca juga: Rupiah Sempat Terseok ke Rp13.600/USD, Gubernur BI Angkat Bicara

Berdasarkan data BI, pada posisi 9 Februari 2018 secara month to date (mtd) Rupiah terdepresiasi 1,76%. Hal ini juga dialami mata uang negara lainnya, yakni Rusia sebesar 3,8%, Turki sebesar 1,8%, Brazil sebesar 3,4%, Singapura sebesar 1,4%, Korea Selatan sebesar 1,4%, dan India sebesar 1,3%.

Dia menjelaskan, penguatan mata uang Paman Sam ini dipengaruhi oleh reformasi perpajakan AS serta perbaikan ekonomi AS yang ditandai kemajuan investasi, konsumsi dan lapangan kerja.

"Ini membuat tren ekonomi AS membaik," ucapnya.

 Baca juga: Dolar AS Melemah, Rupiah Masih Tertahan di Rp13.645/USD

Dalam kesempatan yang sama, Deputi Senior Gubernur BI Mirza Adityaswara mengatakan, pelemahan mata uang di berbagai negara terjadi karena perbaikan ekonomi AS. Hal ini terjadi sejak AS merilis data yang menunjukkan penguatan di sektor tenaga kerja serta inflasi yang menguat. Di mana hal ini terjadi di luar prediksi global.

"Pelaku pasar surprised dengan data tersebut, pajak juga diturunkan yang akan membuat defisit meningkat. Pasar melakukan adjustment Fed Fund Rate (suku bunga acuan The Fed) akan naik. Ini berdampak kepada kurs di hampir seluruh dunia yang melemah," ucapnya.

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini