JAKARTA - Sepanjang tahun 2017 kemarin, PT Wijaya Karya Bangunan Gedung Tbk (WEGE) berhasil mencatat pertumbuhan pendapatan melesat tajam 102,09% menjadi Rp3,90 triliun dibanding priode yang sama tahun sebelunnya hanya Rp1,93 triliun. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin.
Pencapaian pendapatan yang tumbuh signifikan menjadi salah satuk faktor pertumbuhan laba. Perseroan menjelaskan, lonjakan ini ditopang pertumbuhan pesat segmen bisnis jasa konstruksi yang melesat 94% year-on-year (yoy). Sebab, segmen ini memiliki porsi pendapatan mencapai 94,20%. Di sisi lain, segmen properti yang hanya berkontribusi 3,80% terhadap total pendapatan juga mencatat pertumbuhan fantastis yaitu sebesar 526,25% yoy.
Akun pendapatan lainnya juga mencatat pertumbuhan sepanjang periode Januari-Desember 2017. WEGE mencatat pendapatan lainnya meningkat 87,87% yoy menjadi Rp29,67 miliar berkat naiknya pendapatan dari bunga deposito dan jasa giro, perolehan laba selisih kurs, serta pendapatan rupa-rupa. Hal ini yang membuat laba anak usaha PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) ikut melonjak. Sepanjang tahun lalu, laba WEGE meroket 105,88% dari Rp143,23 miliar menjadi Rp294,87 miliar. Jumlah ini sesuai dengan prediksi WEGE pada Januari 2018, yang memperkirakan pertumbuhan laba sebesar 103% yoy.
Sebagai informasi, sepanjang tahun lalu, emiten yang baru mencatat sahamnya di papan bursa tahun lalu ini, telah membukukan kontrak dihadapi (order book) sebesar Rp12,92 triliun. Tahun ini, WEGE menargetkan bisa memperoleh order book sebesar Rp16,59 triliun yang terdiri dari kontrak baru sebesar Rp7,83 triliun dan kontrak bawaan (carry over) sebesar Rp8,76 triliun.
Tahun ini, perseroan memproyeksikan memperoleh kontrak sebesar Rp16,59 triliun atau naik sebesar 28,4% dari target tahun 2017.Direktur Utama WIKA Gedung, Nariman Prasetyo pernah bilang, kontrak yang dihadapi ini terdiri dari target kontrak baru tahun 2018 sebesar Rp7,83 triliun dan carry over tahun 2017 sebesar Rp8,76 triliun.”Komposisi perolehan kontrak baru tahun 2018 direncanakan berasal dari Pemerintah 30%, BUMN 30%, dan Swasta 40%," jelasnya.
Nariman menyebutkan bahwa komposisi tersebut menunjukkan bahwa WIKA Gedung memiliki pasar yang jelas dan independen karena porsi kontrak baru berasal dari eksternal, di luar dari proyek-proyek yang berasal dari PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) selaku Holding Company. Sementara untuk penjualan (termasuk penjualan KSO), WIKA Gedung menargetkan Rp5,19 triliun atau naik 28,8% dari target tahun 2017 sebesar Rp4,03 triliun dengan target laba bersih tahun 2018 Rp394,5 miliar atau naik 38% dari target tahun 2017 sebesar Rp285,8 miliar. Kemudian untuk pengembangan bisnis di tahun 2018, perusahaan menggelontorkan belanja modal sebesar Rp667 miliar.
(Risna Nur Rahayu)