nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

BI Diprediksi Tahan Suku Bunga Acuan, Begini Hitung-hitungannya

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Kamis 22 Maret 2018 09:02 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 03 22 278 1876292 bi-diprediksi-tahan-suku-bunga-acuan-begini-hitung-hitungannya-XtgLR6unQV.jpg Foto: Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (Yohana/Okezone)

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) telah melakukan Rapat Dewan Gubernur (RDG) sejak kemarin 21 Maret 2018. Hari ini, BI akan mengumumkan hasil dari RDG ketiga di tahun 2018, salah satunya mengenai suku bunga acuan atau 7 Days Reverse Repo Rate (7-Days Repo Rate).

Sebelumnya, RDG bulan kemarin pada 14-15 Februari, Bank Sentral memutuskan untuk mempertahankan BI 7-Days Repo Rate tetap sebesar 4,25%. Mempertahankan di 4,25% ini juga terjadi pada bulan Januari.

Hari ini, BI diprediksikan akan tetap menahan suku bunga acuannya di 4,25%. Hal ini dikatakan Peneliti Institute For Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira, sebagai respons BI terhadap kenaikan suku bunga acuan Federal Reserve AS (The Fed) yang telah diprediksi pasar.

Baca Juga: The Fed Naikkan Suku Bunga

Adapun bank sentral AS baru saja menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin (bps), menjadi berada di kisaran 1,5% hingga 1,75% pada Rabu 21 Maret 2018.

Di sisi lain, kondisi ekonomi dalam negeri juga turut mendorong BI mempertahankan suku bunga acuannya. Bhima menjelaskan, meski inflasi di Februari mulai mereda, namun harga beberapa bahan pangan masih akan tinggi hingga Lebaran pada Juni mendatang.

"Jadi ada kemungkinan inflasi yang didorong volatile food akan membuat total inflasi 2018 berada di atas 3,5%," jelas dia kepada Okezone, Jakarta, Kamis (22/3/2018).

 Baca Juga: BI Akan Umumkan Suku Bunga Acuan Hari Ini, Naik atau Turun?

Selain itu, lanjutnya, pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap USD yang diakibatkan oleh keluarnya modal asing dan defisit neraca perdagangan juga menjadi pertimbangan BI untuk menahan 7-Days Repo Rate.

"BI masih akan gunakan cadangan devisa untuk lakukan stabilisasi Rupiah," ucapnya.

Kendati demikian, Bhima menyatakan, langkah BI untuk pertahankan bunga acuannya hanya bersifat temporer. Di semester II, Bank Sentral diprediksi akan menaikkan suku bunga acuannya, hal ini sejalan dengan The Fed yang untuk kedua kalinya diprediksi menaikan suku bunga.

 Baca Juga: OJK Kirim Sinyal ke BI Suku Bunga Acuan Harus Dinaikkan

Untuk diketahui, dalam pengumuman pertemuan bulanannya tersebut, The Fed juga mengisyaratkan dua kenaikan suku bunga lagi pada 2018, dengan alasan menguatnya prospek ekonomi dalam beberapa bulan terakhir.

"Namun tidak menutup kemungkinan pada semester II ketika Fed naikkan bunga yang kedua kalinya dan memberi tekanan besar pada rupiah BI akan naikkan 7-Days Repo Rate menjadi 4,5-4,75%. Artinya langkah BI untuk pertahankan bunga acuannya hanya bersifat temporer," paparnya.

Soal pelonggaran suku bunga acuan, kata Bhima, tidak mungkin menjadi pilihan BI. Hal ini didorong tren pengetatan moneter global.

"Suku bunga acuan 7-Days Repo Rate diprediksi tetap di 4,25%. Ruang untuk pelonggaran moneter bisa dikatakan sudah tidak ada lagi akibat tren pengetatan moneter global," jelasnya.

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini