nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Peran Besar Industri Tembakau, Anak Haram yang Jadi Tulang Punggung Keluarga

Giri Hartomo, Jurnalis · Jum'at 23 Maret 2018 19:47 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 03 23 320 1877152 peran-besar-industri-tembakau-anak-haram-yang-jadi-tulang-punggung-keluarga-mu5qWNtNhm.jpg Foto: Reuters

JAKARTA - Aliansi Masyarakat Tembakau Indonesia  (AMTI) menyebut, industri tembakau masih menjadi leading sektor bagi penerimaan negara. Alasannya, industri tersebut banyak menyumbang dan berkontribusi terhadap ekonomi Indonesia. 

Ketua Umum AMTI Budidoyo Siswoyo mengatakan, industri tembakau berhasil menyerap tenaga kerja kurang lebih 6,1 juta orang.

"Kita ketahui, industri ini menyerap tenaga kerja yang luar biasa sekitar 6,1 juta. Ada petani tembakau 2 juta, petani cengkeh 1,5 juta, karyawan industri tembakau 600 ribu, dan ritel 2 juta orang," ujarnya dalam acara Weekly Forum di Gedung Sindo, Jakarta, Jumat (23/3/2018).

Baca Juga: Impor Dibatasi, Indonesia Akan Kekurangan 100.000 Ton Tembakau

Tak hanya itu, sumbangsih industri rokok terhadap penerimaan negara cukup besar. Pada tahun 2015 saja, penerimaan negara yang berasal dari cukai rokok mencapai 11,3% dari total penerimaan negara. 

"Sekarang ini kira-kira sekitar Rp170 triliun yang disumbangkan sektor ini pada negara. Kita ini termasuk kontribusi pajak terbesar ketiga setelah PPN dan PPh," jelasnya.

Sama halnya dengan Budidoyo,  Pengamat Perpajakan Yustinus Prastowo menilai industri tembakau memiliki peran vital dalam pendapatan negara. Dirinya menyebut, setiap satu batang rokok yang dibeli, 71% diantaranya masuk kedalam penerimaan negara melalui Pajak Penghasilan (PPh). 

"Setiap satu batang  yang dibelanjakan untuk produk hasil tembakau itu, 71% diberikan ke negara lewat PPN dan pajak rokok. Lalu 29% ke industri. Ternyata perokok itu kontribusinya besar," jelasnya. 

Baca Juga: Aliansi Sebut Pemerintah Menghalang-halangi Bisnis

Belum lagi lanjut Budidoyo, kontribusi tembakau terhadap Product Domestik Bruto (PDB) cukup besar. Bahkan jika dibandingkan dua sektor lainnya yakni telekomunikasi dan konstruksi, sumbangsih tembakau kepada PDB masih jauh lebih besar dibandingkan keduanya. 

"Industri hasil tembakau dibanding telekomunikasi dan jasa konstruksi, ternyata porsi ke PDB telekomunikasi besar, kontraktor besar. Tapi kontribusi ke penerimaan negara kecil. Industri rokok itu kan sizenya Rp250 triliun-Rp300 triliun ke PDB, tapi 70% ke negara kontribusinya," jelasnya. 

Oleh karenanya lanjut Yustinus, sudah sepantasnya pemerintah memberikan insentif lebih kepada industri tembakau dengan tidak melakukan kebijakan-kebijakan yang memberatkan industri tersebut. Menurutnya, selama ini industri tembakau seperti layaknya anak garam yang justru dijadikan tulang punggung keluarga. 

"Jadi seperti pak Budidoyo katakan, ini (industri tembakau) seperti anak tiri bahkan kalau menurut saya seperti anak haram tapi jadi tulang punggung keluarga," jelasnya.

(rhs)

Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini