JAKARTA - Bisnis kelinci yang ini berbeda dengan bisnis kelinci potong. Bisnis kelinci ini khusus untuk kelinci hias. Artinya, kelinci sini di tidak untuk disantap atau diambil dagingnya. Untuk itulah bisnis kelinci hias ini masuk dalam kategori bisnis hobi.
Bagi Anda yang sudah memelihara kelinci pedaging, bisnis ini sangat cocok untuk dijalankan. Selain murah dan mudah, bisnis ini memiliki prospek yang tidak kalah dengan bisnis kelinci pedaging. Bisnis ini juga memberikan keuntungan dobel, yakni dapat menjual anakan kelinci hias dan juga kelinci potong sekaligus. Bulu dan fesesnya pun dapat dijadikan sebagai penghasilan tambahan. Berikut adalah contoh analisis usaha dan keuntungan dari bisnis kelinci hias yang dilansir dari buku Pengangguran Kaya Raya milik Wildan Fatoni terbitan 2016:
|
Modal Investasi Awal |
|
|
Kandang |
Rp1.500.000 |
|
Perlengkapan ternak kelinci |
Rp500.000 |
|
Bibit induk betina 20 ekor |
Rp600.000 |
|
Bibit induk pejantan 3 ekor |
Rp75.000 |
|
Total |
Rp2.675.000 |
|
Biaya Operasional Bulanan |
|
|
Pakan sayur dan rumput |
Rp1.000.000 |
|
Pakan tambahan berupa konsentrat |
Rp2.000.000 |
|
Obat |
Rp500.000 |
|
Tenaga kerja |
Rp3.600.000 |
|
Total |
Rp7.100.000 |
Asumsi Pendapatan per Bulan
- Pendapatan
= asumsi kelahiran hidup per induk per tahun adalah 31 ekor. Adapun penjualannya sebagai berikut:
a)Bibit 20 x 15 x Rp25.000 = Rp7.500.000
b)Kelinci potong 20 x 15 x Rp50.000 = Rp15.000.000
c)feses/kotoran Rp60.000
d)bulu Rp750.000
= Total Rp23.310.000
- Keuntungan
= pendapatan – biaya operasional bulanan
= Rp23.310.000-Rp7.100.000
= Rp16.210.000
Catatan: perkiraan analisis budidaya kelinci ini didasarkan pada jumlah ternak per 20 ekor. Harga sewaktu-waktu dapat berubah sesuai dengan harga di kota tempat tinggal Anda.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)