Tahun Politik Bisa Jadi Momentum Industri Hotel Dongkrak Okupansi

Giri Hartomo, Jurnalis · Rabu 04 April 2018 13:49 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 04 04 470 1881977 tahun-politik-bisa-jadi-momentum-industri-hotel-dongkrak-okupansi-XXFxM0Gx4T.jpg Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Indonesia akan memasuki tahun politik pada dua tahun mendatang. Pada tahun 2018, Indonesia akan menghadapi Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak dan pada tahun 2019 Indonesia akan menghadapi Pemilihan Presiden dan Legislatif.

Banyak yang mengkhawatirkan kondisi perekonomian yang merembet kepada bisnis properti di Indonesia yang akan terganggu ketika memasuki tahun politik. Hal tersebut pun berdampak kepada investor yang cenderung melakukan wait and see (menunggu dan mengamati) situasi perekonomian Indonesia tersebut.

Menanggapi hal tersebut, Senior Associate Director Research Colliers Indonesia Ferry Salanto ternyata memiliki pendapatnya sendiri. Menurutnya, tahun politik justru bisa membuat industri properti khususnya perhotelan bisa kembali bergairah.

Pasalnya, memasuki tahun politik banyak sekali partai politik yang memerlukan akomodasi hotel untuk kegiatan internalnya. Sehingga para pebisnis hotel bisa memanfaatkan hal tersebut untuk menarik para partai politik untuk meningkatkan okupansinya.

"Yang paling penting itu salah satu aktivitas politik. Karena ini tahun politik hotel bisa memanfaatkan tingkat hunian," ujarnya dalam acara Konferensi pers laporan properti kuartal pertama di World Trade Center, Jakarta, Rabu (4/4/2018).

Menurut Ferry, adanya tahun politik harus bisa dimanfaatkan dengan baik untuk mwningkatkan okupansi khususnya yang berada di Jakarta. Pasalnya, peningkatan okupansi Jakarta sangatlah berbeda dengan Bali.

Untuk okupansi hotel di Jakarta, setiap tahunya akan mengalami naik turun. Okupansi di Jakarta akan mengalami penurunan ketika hari-hari libur , karena aktivitas bisnis yang ada di Jakarta akan berhenti.

Sementara itu berbeda dengan Jakarta, okupansi di Bali relatif lebih stabil bahkan meningkat sepanjangan tahunya. Apalagi ketika banyak sekali tanggal merah yang terjadi sepanjang tahun.

"Dari sisi occuoancy itu selalu ada pola. Pola yang terlihat adalah di bulan Juni dan July ini adalah di bulan puasa dan lebaran biasanya turun (Jakarta). Bedanya dengan Bali kalo lebaran itu naik. Karena memang aktivitas bisnisnya itu berhenti di Jakarta," jelasnya.

Sebagai informasi, berdasarkan data dari Colliers Indonesia, okupansi perhotelan di Jakarta diprediksi akan meningkat hingga 62%. Peningkatan tersebut ditunjang oleh adanya event besar yakni Asian Games dan tahun politik.

Sementara okupansi hotel di wilayah Bali, diperkirakan akan meningkat hingga 73%. Ada beberapa hal yang membuat peningkatan okupansi begitu signifikan, yakni event pertemuan IMF-Wprld Bank dan mulai kondusifnya gunung agung.

(rzy)

Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini