JAKARTA - PT Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta memproyeksikan MRT bisa mulai dinikmati warga Jakarta pada Maret 2019. Dalam pembangunan, ternyata MRT Jakarta memegang teguh prinsip-prinsip dasar kereta di Jepang.
Baca Juga: Masinis hingga Teknisi MRT Disekolahkan Lagi ke Malaysia
Kepala Divisi Operasi MRT Jakarta Mega Tarigan mengatakan, setiap pembangunan kereta pasti memiliki filosofi menarik. Artinya beda filosofi maka akan beda juga desain pembangunan keretanya.
"Selama mempersiapkan operasi pemeliharaan sejak 2009, 2010 ada filosofi menarik. Di Jepang fokus efisiensi, bagaimana tidak terjadi kebakaran," tuturnya, di Kantor MRT Jakarta, Rabu (18/4/2018).
Filosofi pembangunan kereta ini tentu beda dengan yang ada di Amerika Serikat (AS). Di sana, pembangunan kereta besar-besar dengan banyak jalur evakuasi pada jalannya.
"Kalau di AS fokus ketika terjadi kebakaran bagaimana evakuasinya. Artinya, difensif stasiun. Kalau Jepang bagaimana tidak terjadi kebakaran," tuturnya.
Baca Juga: MRT Jakarta Perkenalkan Masinis hingga Teknisi Perempuan
Dengan alasan itu, kata Mega, MRT Jakarta yang dana pembangunannya dibiayai oleh JICA atau pemerintah Jakarta, membuat upaya pemeliharaan bagaimana supaya filosofi tidak terjadi kebakaran terealisasi.
"Jadi kita gunakan material tidak mudah terbakar dari rolling stok sampai kursi lantai. Itu supaya kebakaran tidak terjadi. Jadi bukan bagaimana kebakaran harus ngapaian," tuturnya.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.