BANDUNG – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendorong perbankan syariah terus terlibat dalam proyek-proyek infrastruktur di Jawa Barat (Jabar).
Saat ini konsorsium perbankan syariah baru menggarap megaproyek Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati. Mereka berinvestasi di bandara yang itu sebesar Rp800-900 miliar.
”Saat ini konsorsium perbankan syariah di Jabar baru menggarap BIJB. Ke depan kami mendorong bank-bank syariah bisa masuk ke proyek tol, jalur kereta api, dan lainnya,” ujar Kepala OJK Regional 2 Jabar Sarwono usai membuka iB Vaganza di Aula BEC, Kota Bandung, kemarin.
Baca Juga: Di Depan Mahasiswa, Kementerian PUPR Pamerkan Pembangunan Infrastruktur
Selain menggarap pembiayaan infrastruktur, OJK berharap perbankan syariah bisa menelurkan produk kreatif, disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat, misalnya produk yang terkait perumahan, kendaraan bermotor, produk ibadah, dan lainnya.
Langkah-langkah itu diharapkan dapat meningkatkan kinerja perbankan syariah yang saat ini masih stagnan di angka 5% secara nasional. Walaupun untuk wilayah Jabar, perbankan syariah mengalami pertumbuhan lebih tinggi di atas 8%.
Sarwono mengakui, dari sisi dana pihak ketiga, perbankan syariah di Jabar dapat mencatat pertumbuhan yang baik. Namun, penyaluran pembiayaan masih rendah. Ekspansi perbankan syariah pada kredit infrastruktur diharapkan dapat meningkatkan penyaluran kinerja pembiayaan perbankan syariah. OJK dengan gencar berupaya memperkenalkan perbankan syariah kepada masyarakat. Sarwono mengakui, saat ini produk perbankan syariah sudah sangat beragam.
Baca Juga: 14 Infrastruktur Didepak dari Proyek Strategis, Ini 12 Fakta di Lapangan
Sayangnya, kurangnya literasi dan edukasi membuat masyarakat belum mengetahui secara luas produk dan skema perbankan syariah. ”Saat ini inklusi keuangan syariah baru 8%. Ini masih perlu dorongan agar lebih dikenal masyarakat. Ajang iB Vaganza merupakan upaya OJK menaikkan inklusi perbankan syariah,” sebutnya.
GM Dana dan Transaksional BNI Syariah Bambang Sutrisno memproyeksikan pertumbuhan funding akan lebih besar dari lending karena beberapa faktor. Tahun politik juga memengaruhi turunnya pembiayaan perbankan syariah. Menurut dia, sejak 2017 BNI Syariah sudah masuk ke pembiayaan infrastruktur sehingga pertum buhan kinerja pembiayaan bisa di atas rata-rata industri nasional.
“Tahun ini kami menargetkan kenaikan funding 17,2% dari Rp29,04 triliun menjadi Rp34 triliun. Kami berharap target itu bisa tercapai 75% pada semester I/2018,” tuturnya.
Menurut dia, untuk masuk ke pembiayaan infrastruktur, perlu upaya bersama perbankan syariah seperti konsorsium, mengingat nilai proyek yang begitu besar. Berbeda dengan perbankan konvensional yang sudah memiliki aset tinggi. (Arif Budianto)
(Dani Jumadil Akhir)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.