nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Banyak Tenaga Kerja Asing Masuk ke Indonesia, Ini Penjelasan Kepala BKPM

Giri Hartomo, Jurnalis · Senin 30 April 2018 19:36 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 04 30 320 1893056 banyak-tenaga-kerja-asing-masuk-ke-indonesia-ini-penjelasan-kepala-bkpm-GFuk1yfMZu.jpg Buruh (Foto: Okezone)

JAKARTA - Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong buka suara terkait isu Tenaga Kerja Asing (TKA) yang belakangan menjadi sorotan berbagai elemen masyarakat. Menurutnya, keputusan pemerintah untuk membuka akses tenaga kerja asing masuk karena Indonesia belum memiliki tenaga kerja terampil yang mumpuni.

Sehingga untuk mengisi slot kekurangan tenaga kerja terampil tersebut, maka pemerintah terpaksa mengizinkan TKA untuk masuk ke Indonesia. Namun izin yang diberikan pemerintah pun tidak diberikan untuk waktu yang lama.

Baca Juga: Pantau Tenaga Kerja Asing, DPR Usul Bentuk Satgas Pengawasan

"Isu Tenaga kerja yang sesungguhnya adalah bahwa kekurangan tenaga kerja terampil semakin mendesak. Semakin terasa kita kekurangan kerja terampil," ujarnya saat ditemui di Kantor Pusat BKPM, Jakarta, Senin (30/4/2018)

Menurut Lembong, jika masalah kekurangan tenaga terampil ini berkelanjutan, maka bisa mengancam keberlanjutan perekonomian Indonesia yang saat ini sedang dalam tren yang positif.

Melihat Kerasnya Hidup Buruh Pembuat Kapal di Cilacap

"Kalau ini dibiarkan (kekurangan tenaga ahli) maka akan mengancam keberlanjutan tren realisasi investasi," ucapnya.

Salah satu contohnya lanjut Lembong, adalah kurangnya tenaga kerja di bidang Informasi dan Teknologi (IT). Kekurangan tersebut membuat pemerintah akhirnya mengimpor tenaga kerja asing asal India untuk sementara waktu mengisi kekurangan tersebut.

Baca Juga: Dana Kompensasi Pekerja Asing Bisa Dipakai untuk Peningkatan Kualitas Tenaga Kerja RI

Sambil bekerja, para tenaga kerja asal India ini diminta untuk mengajarkan kepada penduduk lokal Indonesia mengenai keahlian-keahliannya di bidang IT. Sehingga nantinya, masyarakat lokal Indonesia bisa menjadi tenaga IT yang terampil di masa mendatang.

"Saya kasih contoh yang paling parah enggak banyak diliput di media yaitu tenaga ahli IT, programing semakin langka dan semakin mahal, ini ada keterkaitannya dengan TKA India punya tenaga ahli terampil," jelasnya.

Melihat Kerasnya Hidup Buruh Pembuat Kapal di Cilacap

Di sisi lain lanjut Lembong, didatangkannya tenaga ahli asing juga berdampak kepada penghematan anggaran dari perusahaan dan negara. Karena, satu orang India tersebut nantinya bisa langsung mengajari beberapa orang asal Indonesia agar menjadi tenaga IT yang ahli.

"Tidak banyak yang tahu saat ini pun pelaku pelaku di e-commerce banyak sekali menggunakan outsourcing menggunakan kontraktor itu di India. Beberapa pendiri dari unicorn kita bilang ke saya pak kita harus kirim 20 orang kita ke India kalau bisa berganti datangkan satu orang India ke sini itu akan sangat menghemat luar biasa," kata Thomas Lembong.

Contoh lainnya adalah, mulai kurangnya tenaga ahli translator bahasa Inggris di Indonesia. Padahal sektor ini menjadi sangat penting untuk mengundang investasi ke Indonesia.

"Kemudian pertumbuhan pariwisata yang luar biasa . Sekarang kita mulai kehilangan orang yang lancar bahasa Inggris sehingga kita butuh guru guru bahasa Inggris yang cenderung dari India dan Filipina," ucapnya.

Demo, Buruh Pelabuhan Tuntut Penghapusan Sistem Kerja Outsourcing

Mantan Menteri Perdagangan itu menyebut, banyak sekali ahli-ahli bahasa Inggris adalah Indonesia yang justru bekerja sebagai Chief Office Executive (CEO) ataupun perusahaan-perusahaan yang lebih menjanjikan secara pendapatan. Sehingga untuk tenaga-tenaga guru bahasa Inggris dan hingga tour guide masih sangat kurang.

"Kenapa enggak bisa dikasih ke orang Indonesia ? Karena orang Indonesia yang lancar Bahasa Inggris cenderung kerja di Perbankan atau e-commerce yang penghasilnya," jelasnya.

Baca Juga: Sederet Fakta Pekerja Asing di Indonesia, Nomor 1 Paling Jadi Sorotan

Bangun Universitas Bertaraf Internasional

Sementara itu lanjut Lembong salah satu upaya untuk menggenjot investasi asing dan mengurangi tenaga kerja asing masuk ke Indonesia adalah membuka Universitas-universitas bertaraf Internasional di Indonesia. Hal tersebut sudah dibuktikan sukses oleh negara Vietnam.

"Vietnam bisa menjadi contoh dia yang duluan untuk investasi bahkan 15 tahun lalu dia membuka 10 Universitas Internasional," ucapnya. 

May Day 2017, Massa Buruh Bentangkan Bendera Merah Putih Raksasa

Menurutnya, dengan membuka universitas bertaraf Internasional, maka kualitas Sumber Daya Manusia Indonesia bisa naik kelas (meningkat). Sehingga kebutuhan-kebutuhan industri untuk tenaga-tenaga ahli asal dalam negeri bisa terpenuhi.

"Nah ini yang kita lagi mau tiru. Kita juga membuka sektor universitas, supaya lebih banyak sarjana yang sangat dibutuhkan oleh Industri, ekonomi digital, pariwisata, dan jasa," jelasnya.

1 / 2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini