JAKARTA - Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong buka suara terkait isu Tenaga Kerja Asing (TKA) yang belakangan menjadi sorotan berbagai elemen masyarakat. Menurutnya, keputusan pemerintah untuk membuka akses tenaga kerja asing masuk karena Indonesia belum memiliki tenaga kerja terampil yang mumpuni.
Sehingga untuk mengisi slot kekurangan tenaga kerja terampil tersebut, maka pemerintah terpaksa mengizinkan TKA untuk masuk ke Indonesia. Namun izin yang diberikan pemerintah pun tidak diberikan untuk waktu yang lama.
Baca Juga: Pantau Tenaga Kerja Asing, DPR Usul Bentuk Satgas Pengawasan
"Isu Tenaga kerja yang sesungguhnya adalah bahwa kekurangan tenaga kerja terampil semakin mendesak. Semakin terasa kita kekurangan kerja terampil," ujarnya saat ditemui di Kantor Pusat BKPM, Jakarta, Senin (30/4/2018)
Menurut Lembong, jika masalah kekurangan tenaga terampil ini berkelanjutan, maka bisa mengancam keberlanjutan perekonomian Indonesia yang saat ini sedang dalam tren yang positif.

"Kalau ini dibiarkan (kekurangan tenaga ahli) maka akan mengancam keberlanjutan tren realisasi investasi," ucapnya.
Salah satu contohnya lanjut Lembong, adalah kurangnya tenaga kerja di bidang Informasi dan Teknologi (IT). Kekurangan tersebut membuat pemerintah akhirnya mengimpor tenaga kerja asing asal India untuk sementara waktu mengisi kekurangan tersebut.
Baca Juga: Dana Kompensasi Pekerja Asing Bisa Dipakai untuk Peningkatan Kualitas Tenaga Kerja RI
Sambil bekerja, para tenaga kerja asal India ini diminta untuk mengajarkan kepada penduduk lokal Indonesia mengenai keahlian-keahliannya di bidang IT. Sehingga nantinya, masyarakat lokal Indonesia bisa menjadi tenaga IT yang terampil di masa mendatang.
"Saya kasih contoh yang paling parah enggak banyak diliput di media yaitu tenaga ahli IT, programing semakin langka dan semakin mahal, ini ada keterkaitannya dengan TKA India punya tenaga ahli terampil," jelasnya.

Di sisi lain lanjut Lembong, didatangkannya tenaga ahli asing juga berdampak kepada penghematan anggaran dari perusahaan dan negara. Karena, satu orang India tersebut nantinya bisa langsung mengajari beberapa orang asal Indonesia agar menjadi tenaga IT yang ahli.