Belajar dari Starbucks, Bisnis Kedai Kopi di RI Harus Berbenah

Koran SINDO, Jurnalis · Minggu 24 Juni 2018 12:37 WIB
https: img.okezone.com content 2018 06 24 320 1913301 belajar-dari-starbucks-bisnis-kedai-kopi-di-ri-harus-berbenah-m8VqOJJ6mD.jpg Foto: Reuters

JAKARTA - Starbucks berencana menutup 150 gerai di Amerika Serikat (AS). Imbasnya saham perusahaan jaringan kedai kopi global itu pun turun 3,5% pada saat pengumuman 19 Juni lalu.

Bahkan dua hari berikutnya saham Starbucks anjlok hingga 9%. Ini bukan berarti bisnis ke dai kopi menurun. Justru penikmat kopi semakin well educated. Dalam dua dekade terakhir Starbucks memang menjadi ikon populer bagi para pencinta kopi. Ekspansinya sejak pertengahan tahun 90-an ke luar AS begitu gencar.

Pasar pun menyambut antusias keberadaan gerai kopi modern yang didirikan oleh Jerry Baldwin, Zev Siegl, dan Gordon Bow kerpada 1971 itu. Tahun ini tercatat ada sekitar 28.218 kedai kopi yang dikelola Starbucks di seluruh dunia. Jum lah yang sangat besar untuk ukuran perusahaan ritel yang core business-nya terfokus pada penjualan di luar kebutuhan pokok.

Rencana penutupan ratusan gerai kopi dari brand terkenal dengan produksi massal itu pun menyisakan tanya. Maklum, dalam beberapa bulan terakhir Starbucks diserang berbagai isu yang kurang mengenakan. Mulai dari perintah hakim pengadilan di Los Angeles yang meminta agar Starbucks mencantumkan label peringatan kanker pada kopi yang dijual hingga isu rasis terhadap pengguna toilet kulit hitam.

 Isu Rasial, Starbucks Tutup 8.000 Kedai di Amerika Serikat

Namun, CEO Starbucks Kevin Johnson dalam sebuah pernyataannya mengatakan bahwa performa perusahaannya saat ini disebut tidak merefleksikan potensi brand ke depan. “Kita harus bergerak cepat untuk memenuhi tuntutan perubahan dan kebutuhan pelanggan,” katanya, dikutip CNN .

Meski di AS bisnis Starbucks dihadapkan pada sejumlah tantangan, namun perusahaan itu meyakini pasar di luar Negeri Paman Sam masih besar. Berbicara kepada CNBC , Johson mengungkapkan rencana pembukaan 400 kedai baru pada 2019. Kebijakan itu akan dilakukan setiap tahun. “Tugas kita meyakinkan kalau target pasar tepat, geografis yang tepat untuk pembukaan kedai baru,” katanya.

Dia menegaskan, gerai kopi yang akan dibuka pun di fokuskan pada wilayah-wilayah baru. Lain Starbucks di AS, lain pula fenomena kehadiran kedai-kedai kopi di Tanah Air. Di kota-kota besar di Indonesia kini justru banyak bermunculan kedai kopi. Mulai dari gerai kopi franchise dari luar negeri hingga gerai kopi lokal yang menawarkan beragam kopi Nusantara.

 Isu Rasial, Starbucks Tutup 8.000 Kedai di Amerika Serikat

Kemunculan gerai-gerai kopi ini tentu saja sangat menggembirakan karena mampu menciptakan pasar tersendiri yang imbasnya memberikan multiplier effect cukup luas. Tak hanya menyerap tenaga kerja, tetapi juga melibatkan supplier terkait.

Wakil Ketua Umum Specialty Coffee Association Indonesia Karya Elly mengakui potensi konsumsi kopi di Indonesia terus bertambah setiap tahun. Potensi yang besar ini berdampak besar terhadap banyak gerai kopi yang dibuka tidak hanya di kota-kota besar, namun juga di kabupaten dan kecamatan.

“Dan, gerai-gerai kopi tidak hanya menyasar kelas atas mau pun menengah, namun mulai menyasar semua kelas masyarakat Indonesia,” ujarnya di Jakarta.

 

Menurut dia, meski belum ada data pasti soal konsumsi kopi di Indonesia, namun diperkirakan pertumbuhan konsumsi kopi di dalam negeri bisa mencapai 10%-12% pertahun. Fakta itu terlihat dari menjamurnya gerai-gerai kopi di berbagai kota di Indonesia. “Coba perhatikan sekarang gerai kopi tidak hanya di kota besar. Bahkan sudah merambah ke kabupaten dan kecamatan,” ujarnya.

Tren ini, tambahnya, juga tak lepas dari promosi anak muda yang mulai gandrung terhadap kopi. Termasuk ada film yang khusus bertema kopi dan iklan-iklan di televisi. “Ini tentu menjadi tambahan semangat bagi roaster-roaster dan barista muda kita untuk terus memasyarakatkan kopi asli Indonesia yang di kenal dunia,” ungkapnya.

Dia menambahkan, persoalan kopi di Indonesia hanya terletak pada budidaya yang belum digarap serius. Sedangkan di Vietnam sudah dikenal sebagai produksi kopi robusta terbesar dunia. “Peran pemerintah sangat perlu di sini terutama menyediakan bibit-bibit kopi yang berkualitas,” pungkasnya.

 

Pelajaran dari Starbucks

Pakar marketing Yuswohady berpendapat, secara perlahan pasar kopi di Indonesia akan terus bertumbuh dengan kemunculan gerai-gerai kopi lokal baru. Kondisi ini bahkan bisa terus berkembang dalam tiga hingga empat tahun ke depan seiring tren kopi sebagai gaya hidup.

“Bahkan bisa lebih besar kalau mau digarap serius. Mulai dari manajemennya, mengatur kualitasnya, hingga pada pengelolaan perkebunannya,” katanya.

Terkait rencana penutupan ratusan gerai kopi Starbucks di AS tahun depan, dia mengatakan bahwa setiap pasar yang sudah berada pada kondisi matang akan mengalami titik jenuh. Hal ini terjadi pada Starbucks yang menurutnya kini sudah mulai diganggu dengan kehadiran gerai kopi lain yang hadir dengan menawarkan cita rasa berbeda.

“Tentu dengan harga yang lebih murah. Jadi, sudah mulai kelihatan pasar atau market Starbucks sudah diambil oleh gerai kopi lokal,” sebutnya.

 

Sementara itu, pengamat makanan dan minuman Gupta Sitorus melihat apa yang dialami pada Starbucks di AS sebenarnya bukan yang pertama kali terjadi. Menurutnya, di pasar negara lain seperti Australia, Starbucks mendapatkan tantangan berat karena budaya ngopi di Negeri Kanguru sudah terbentuk dengan sangat baik.

“Di Australia mereka (Starbucks) mengalami tantangan yang luar biasa. Pasalnya, di sana coffee shop artisan jumlahnya sangat banyak, khususnya di Melbourne dan Sydney. Dengan demikian, konsumennya sudah well educated, mengerti betul rasa kopi yang baik,” katanya.

Di sisi lain, kata dia, Starbucks secara persepsi justru mewakili kopi industrial yang di produksi secara massal sehingga seringkali persepsi massal itu diartikan sebagai less quality.

Di samping itu, strategi bisnis Starbucks yang ekspansif juga mendorong persepsi industrial tersebut. Dalam radius 1 kilometer misalnya bisa ada tiga gerai dari brand yang sama. Meski demikian, Gupta tidak memungkiri bahwa kehadiran Starbucks di Indonesia telah berhasil membangkitkan budaya ngopi atau kongkow. Menurutnya, Starbucks sangat berperan dalam membentuk ulang budaya kopi di negara ini.

“Saya sebut kata ‘ulang’ karena sebenarnya budaya kopi kita sudah sangat kuat. Budaya ngopi ini awalnya adalah budaya guyub. Bisa dibilang akar rumput kalau boleh. Nah, Starbucks ini berhasil menaikan derajat kopi menjadi gaya hidup,” ucapnya.

Menurut dia, sejak lama aktivitas ngopi secara tradisional dikenal sebagai alat untuk guyub, diskusi warung, silaturahmi, dan lain-lain. Namun, kehadiran Starbucks telah menjadikan alat untuk meraih status sosial tertentu di Indonesia. “Maka kini muncullah urban coffee culture baik di kotakota besar maupun kecil di Indonesia. Ini juga mengubah target demografis penikmat kopi,” katanya.

Dia menambahkan, jika dulu kopi diasosiasikan dengan orang tua atau bapak-bapak, tetapi sejak kopi dianggap sebagai lifestyle dan cara untuk meraih status sosial tertentu, target demografisnya jadi lebih muda dan meluas. Dia juga melihat saat ini gerai-gerai kopi lokal di Tanah Air telah berhasil “membentuk ulang” budaya kopi.

Fenomena ini kemudian ditangkap oleh generasi milenial dengan lebih berani mengeksplorasi budaya kopi Nusantara. “Tak heran jika banyak kedai kopi yang menyajikan kopi dengan cara yang lebih pop dan sesuai dengan generasi mereka,” ujar Gupta. (Andika Hendra/Ichsan Amin/Yanto Kusdiantono)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini