Dia menandaskan, di tengah pelemahan kurs rupiah akibat gejolak global dan kenaikan tingkat suku bunga AS, pihaknya mendorong agar BI melakukan swap rate untuk jangka panjang.
“Dengan swap rate yang jelas maka mereka yang punya devisa hasil ekspor bisa dengan cepat merupiahkan ekspor. Pada saat mereka butuh dolar, mereka bisa mencari dolar,” tuturnya.
Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Mohammad Faisal mengatakan, dampak dari perang dagang tentunya akan berimbas pada membanjirnya produk impor besi dan baja. Hal ini karena ada efek pengalihan ekspor China dari sebelumnya ke AS.
“Otomatis mereka mencari pasar alternatif. Indonesia ini pasar yang paling potensial buat China. Pasarnya besar dan hambatan perdagangannya, biaya masuknya rendah. Hambatan di luar tarif juga sedikit. Dari ongkos logistik juga lebih murah,” ujarnya. Menurut Faisal, kebutuhan di dalam negeri terhadap produk besi dan baja juga tinggi sejalan dengan pembangunan infrastruktur.

Untuk itu, pemerintah harus mengantisipasi membanjirnya produk impor besi dan baja ini. Namun, dia mengakui langkah tersebut tidak bisa dalam waktu singkat. “Perlu ada perbaikan secara struktural di bidang industri, terutama dari sisi industri hulunya harus kuat, daya saingnya harus tinggi sehingga ketika produk impor itu datang, persaingan harganya tidak terlalu terpengaruh,” jelasnya.
Sebelumnya, Ketua Dewan Pertimbangan Apindo Sofjan Wanandi mengingatkan kbijakan Trump mencabut GSP produk tekstil Indonesia sebagai bentuk peringatan AS kepada Indonesia, karena jumlah ekspor ke Negeri Paman Sam lebih tinggi dibandingkan jumlah ekspor AS ke Indonesia.
“Mereka sudah memberikan warning ke kita bahwa lebih banyak pada dia dan kita harus bicara pada dia mengenai beberapa aturan-aturan di mana dia memiliki spesial tariff placement yang dia mau cabut, terutama di bidang tekstil dan lainnya,” ujarnya.

Seperti diketahui, Presiden AS Donald Trump memperingat kan mengancam pemberlakuan tarif 10% terhadap produk China senilai USD200 miliar (Rp2.871 triliun) jika Beijing menolak mengubah praktik dagangnya. Trump juga mengatakan bahwa Washington akan menarget miliar USD500 miliar (Rp7.184 triliun) produk China yang diimpor AS.
“Kamu akan mendapatkan tambahan USD16 miliar(Rp229 triliun) dalam dua pekan, kemudian kita akan meningkatkan menjadi USD200 miliar, setelah kita memberlakukan USD300 miliar (Rp4.307 triliun). Oke? Jadi, kita memiliki 50 plus 200 plus 300,” ancam Trump. Trump mengungkapkan, motif utama pemberlakuan tarif dagang AS terhadap Beijing adalah hukuman atas pencurian kekayaan intelektual dan perlindungan terhadap kepentingan AS.
Selain itu, AS ingin menyelamatkan ekonominya di mana mengalami defisit perdagangan dengan China senilai USD375 miliar. Perang dagang juga merupakan dampak dari janji kebijakan Trump yang ingin merenegosiasi kesepakatan perdagangan. Dia juga mengampanyekan strategi ekonomi “mengutamakan kepentingan rakyat AS terlebih dahulu”.