Pada perdagangan sesi pertama, Selasa (17/7), harga saham ROTI terkontraksi 25 poin atau 2,6% menuju level Rp935 per saham. Sepanjang tahun berjalan, kinerja saham ROTI pun telah turun lebih dari 26%. Penurunan harga saham ROTI ini lebih dalam bila dibandingkan dengan penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang turun 7,75% sepanjang tahun ini.
Lukito mengatakan, perseroan menggunakan kas internal dalam aksi buyback ini. Pada 2018, ROTI mengincar pertumbuhan penjualan hingga 15% secara year-on-year (yoy). Pada kuartal I/2018, nilai penjualan ROTI mencapai Rp659,06 miliar atau tumbuh 9,39% dari posisi Rp602,45 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat senilai Rp29,05 miliar per Maret 2018.
Sementara serapan anggaran belanja modal (capital expenditure/capex) perseroan sebesar Rp 96 miliar dari total capex yang di anggarkan pada tahun ini sebesar Rp 600 miliar. Sumber dana memanfaatkan juga hasil dari penawaran umum terbatas (PUT) I. Dengan rincian Rp 500 miliar digunakan untuk ekspansi, serta sisanya Rp 100 miliar digunakan untuk maintenance 11 pabrik yang sudah dimiliki perseroan.
Pada tahun 2018, perseroan menjadi Pemegang Saham mayoritas PT Prima Top Boga (51%) melalui penerbitan saham baru. Adapun PTB merupakan perusahaan yang bergerak di bidang adonan krim. Di samping itu, pada April 2018 ini perseroan juga baru mengoperasikan pabrik baru di Laguna Filipina yang saat ini memproduksi sekitar 100 ribu roti putih per harinya.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)