nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Rupiah Anjlok 14.600/USD, Sri Mulyani Singgung Krisis di Turki

Ulfa Arieza, Jurnalis · Senin 13 Agustus 2018 11:45 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 08 13 278 1935729 rupiah-anjlok-14-600-usd-sri-mulyani-singgung-krisis-di-turki-vp3zuKYJIu.jpg Foto: Sri Mulyani soal Rupiah (Okezone)

JAKARTA - Nilai tukar Rupiah memberikan kejutan di awal pekan dengan anjlok cukup dalam hingga tembus level Rp14.600 per USD. Mengutip Bloomberg pada pukul 11.30 WIB, nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS terjungkal 0,91% atau 132 poin ke posisi Rp14.610.

Menanggapi kondisi Rupiah tersebut, Menteri Keuangan Sri Mulyani menuturkan, banyak faktor yang mempengaruhi Rupiah setiap harinya. Dari sisi global, Rupiah ikut terimbas dengan krisis keuangan yang terjadi di Turki. Akibat krisis, mata uang Turki, Lira jatuh terhadap Dolar AS hingga 18%.

"Jadi pada minggu terakhir ini faktor yang berasal dari Turki menjadi sangat menonjol secara global," kata Sri Mulyani di Hotel JS Luwansa, Senin (13/8/2018).

 Nilai Tukar Rupiah atas Dolar Amerika Serikat Sempat Tembus Rp14.545

Sri Mulyani mengatakan, permasalahan di Turki tergolong cukup serius karena bersinggungan dengan faktor politik dan keamanan di Turki. Akibatnya, kondisi perekonomian Turki cukup tertekan.

"Adanya persoalan yang sangat serius dari mulai masalah currency-nya tapi juga kemudian pengaruhnya exposure kepada ekonomi domestik dan terutama dari dimensi politik dan security di sana," kata dia.

Sementara dari dalam negeri, meningkatnya current account defisit (CAD) di kuartal II-2018 mencapai USD8 miliar atau 3% terhadap PDB perlu diwaspadai. Angka defisit ini jauh lebih besar dibandingkan CAD di kuartal sebelumnya sebesar USD5,7 miliar atau 2,2% terhadap PDB.

 Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS Terdepresiasi 50 Poin

Kendati lebih rendah dibandingkan situasi pada saat periode taper tantrum di 2015 yang defisitnya lebih dari 4%, namun Sri Mulyani mengatakan Indonesia harus tetap waspada dan hati-hati, karena lingkungan yang dihadapi berbeda dengan 2015.

"2015 waktu itu quantitative easing masih terjadi dan kenaikan suku bunga masih belum dilakukan, baru diumumkan. Sekarang suku bunga sudah naik secara global dan quantitative easing sudah mulai dikurangi dan inilah yang menyebabkan tekanan menjadi lebih kuat terhadap berbagai mata uang di dunia," jelas dia.

 

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini