Share

Perang Dagang dengan Amerika, Begini Tak-Tik China "Bergerilya"

Agregasi Harian Neraca, Jurnalis · Selasa 14 Agustus 2018 15:46 WIB
https: img.okezone.com content 2018 08 14 320 1936380 perang-dagang-dengan-amerika-begini-tak-tik-china-bergerilya-0YDyeyuCpu.jpg Ilustrasi Perang Dagang China dengan AS (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Impor China atas produk-produk pertanian Amerika Serikat (AS) akan turun tajam, setelah China menerapkan langkah-langkah perdagangan balasan dan negara itu mampu menutupi permintaannya untuk minyak goreng dan pakan hewan. Sengketa perdagangan akan memiliki dampak terbatas pada sektor pertanian China, tetapi memukul lebih keras mitra-mitranya di Amerika Serikat.

"Departemen-departemen terkait siap sepenuhnya setelah studi yang teliti dan China sepenuhnya mampu memastikan permintaan domestik untuk minyak goreng dan pakan ternak berbasis protein bisa ditutupi,โ€ kata Wakil Menteri Pertanian Han Jun, disalin dari Antara.

Han menambahkan, salah satu solusi dengan penurunan pasokan dari AS adalah meningkatkan impor dari eksportir-eksportir lainnya seperti Brasil, dan kedelai dapat dengan mudah diganti dengan pakan hewan yang terbuat dari biji-bijian lain,

China, pengimpor produk pertanian terkemuka dunia, memiliki kekurangan tahunan sebesar 90 juta ton kedelai dan AS memasok sepertiga dari total impor China. Kacang kedelai diproses untuk membuat minyak goreng dan pakan ternak. China mulai mengenakan tarif tambahan 25% pada biji-bijian AS pada 6 Juli, sebagai pembalasan atas tindakan serupa oleh Washington dalam saling balas perang perdagangan.

Sebelumnya, tarif yang diusulkan China terhadap ekspor gas alam cair (LNG) dan minyak mentah AS membuka sebuah front baru dalam perang dagang antara kedua negara, pada saat Gedung Putih sedang meningkatkan kekuatan ekspor energi AS.

China memasukkan LNG untuk pertama kalinya dalam daftar tarif yang diusulkan pada Jumat (3/8/2018) pekan lalu, hari yang sama dengan pembeli minyak mentah terbesar AS, Sinopec, menghentikan impor minyak mentah AS karena perselisihan tersebut, menurut tiga sumber yang akrab dengan situasi tersebut.

Pada Jumat, China mengumumkan tarif pembalasan atas barang-barang AS senilai USD60 miliar, dan memperingatkan langkah-langkah lebih lanjut, menandakan bahwa pihaknya tidak akan mundur dalam perang dagang yang berlarut-larut dengan Washington.

Kondisi itu bisa menimbulkan situasi tidak menguntungkan atas ambisi dominasi energi Presiden AS Donald Trump. Pemerintah AS telah berulang kali mengatakan ingin memperluas pasokan bahan bakar fosil ke sekutu globalnya, sementara Washington kembali menggulirkan peraturan domestik untuk mendorong lebih banyak produksi minyak dan gas.

"Penjajaran di sini jelas, sulit untuk menjadi kekuatan utama energi ketika salah satu konsumen energi terbesar di dunia meningkatkan hambatan untuk mengkonsumsi energi itu. Itu membuatnya sangat sulit," kata kepala riset pasar energi Michael Cohen, di Barclays.

AS adalah pengekspor bahan bakar seperti bensin dan solar, terbesar dunia, dan siap untuk menjadi salah satu eksportir LNG terbesar pada 2019. Ekspor LNG AS bernilai USD3,3 miliar pada 2017. China adalah pengimpor minyak mentah terbesar dunia.

China telah membatasi impor LNG AS selama dua bulan terakhir, bahkan sebelum masuk secara resmi dalam daftar tarif potensial. China juga menjadi pembeli terbesar minyak mentah AS di luar Kanada, tetapi Kpler, yang melacak pengiriman minyak di seluruh dunia, menunjukkan kargo minyak mentah ke China juga telah turun dalam beberapa bulan terakhir.

Itu terjadi pada saat AS memiliki beberapa fasilitas ekspor LNG skala besar yang sedang dibangun, dan setelah perjalanan Trump pada akhir 2017 ke Tiongkok yang termasuk para eksekutif dari perusahaan-perusahaan LNG AS.

ย China menjadi importir LNG terbesar kedua dunia pada 2017, karena membeli lebih banyak gas dalam upaya negara itu menghindari penggunaan batu bara untuk mengurangi polusi.

"Ini tidak akan mempengaruhi perdagangan tetapi hanya akan membuat gas lebih mahal bagi konsumen China," kata pemimpin Tellurian Inc, Charif Souki, salah satu dari beberapa perusahaan yang ingin membangun terminal ekspor LNG baru.

China, yang membeli hampir 14% dari semua LNG AS yang dikirim antara Februari 2016 hingga Mei 2018, telah mengambil pengiriman hanya dari satu kapal yang meninggalkan AS pada Juni dan tidak ada sejauh ini di bulan Juli, dibandingkan dengan 17 dalam lima bulan pertama tahun ini.

"Industri gas AS akan jauh lebih terpukul oleh ini karena China hanya mengimpor volume kecil, sedangkan pemasok AS melihat Tiongkok sebagai pasar masa depan yang besar," kata profesor studi energi di Universitas Xiamen Lin Boqiang di Tiongkok.

Sementara itu, menurut Kpler, ekspor minyak mentah ke China turun menjadi sekitar 226.000 barel per hari (bph) pada Juli, setelah mencapai rekor 445.000 barel per hari pada Maret. Sinopec, melali unit perdagangannya, Unipec, adalah pembeli terbesar minyak mentah AS.

China kemungkinan akan menaikkan pembelian dari Arab Saudi, Rusia, Uni Emirat Arab dan Irak jika tarif memperlambat arus AS, kata Neil Atkinson, kepala divisi industri dan pasar minyak di Badan Energi Internasional (IEA). "Akan ada orang lain yang akan menawarkan barel ke Tiongkok, sehingga bisa menemukan yang mampu menggantikan volume yang hilang dari AS," kata Atkinson.

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini